Tentang Nominasi pada Festival Film Indonesia 2007
Kami yang bertandatangan dibawah ini adalah anggota Masyarakat Film Indonesia MFI, yang telah dinominasikan pada Festival Film Indonesia 2007. Dengan ini kami menyatakan sikap untuk menolak nominasi kami, karena tuntutan kami akan sebuah skema industri perfilman Indonesia yang kondusif masih sedang kami perjuangkan. Sebuah festival yang jernih, transparan, independen, dan bervisikan majunya industri film nasional juga bagian dari perjuangan kami. Oleh karena itu kami belum dapat mendukung FFI 2007, hingga tuntutan kami terpenuhi. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada penyelenggara, kota tuan rumah dan para nomine lain, kami sampaikan salam maju terus film Indonesia.
Jakarta, 10 Desember 2007,
Atas Nama Masyarakat Film Indonesia
- Lukman Sardi (Unggulan Pemeran Pendukung Pria – Naga Bonar Jadi 2
- Winky Wiryawan (Unggulan Pemeran Pendukung Pria – Badai Pasti Berlalu)
- Shanty (Unggulan Pemeran Pendukung Wanita – Kala/ Maaf, Saya Menghamili Istri Anda)
- Monty Tiwa (Unggulan Penulis Skenario Cerita – Mengejar Mas-Mas) (Unggulan Editing – Mengejar Mas Mas) (Unggulan tata Suara – Mengejar Mas Mas)
- Hanung Bramantyo (Unggulan Penyutradaraan – Get Married/Kamulah Satu-Satunya)
- Rako Prijanto (Unggulan Penyutradaraan – Merah Itu Cinta)
- Rudy Soedjarwo (Unggulan Penyutradaraan – Mengejar Mas-Mas)
- Rico Marpaung (Unggulan Tata Artistik – Merah Itu Cinta)
- Cesa David Luckmansyah (Unggulan Editing – Get Married)
- Sasha Sunu (Unggulan Editing – Merah Itu Cinta)
- Satrio Budiono (Unggulan Tata Suara – Merah Itu Cinta)

7 comments
Comments feed for this article
December 10, 2007 at 7:24 am
Mr. Meto
“Apabila tuntutan di atas tidak ditanggapi, kami akan melakukan boikot terhadap penyelenggaraan FFI di masa yang akan datang, dan melakukan perlawanan secara terstruktur terhadap segala kegiatan yang diselenggarakan atau diadakan oleh badan pemerintah yang mengatasnamakan PERFILMAN INDONESIA.”
kutipan pernyataan diatas patut di garis bawahi ya, apakah besok 14/12/07 akan terjadi pembelotan besar-besaran atas nama MFI dengan panitia FFI tahun ini yang notabene masyarakat film yang sangat berkopeten di bidangnya, ada Pak Garin, adan Kang Didi dst.
saya rasa perhelatan FFI adalah perhelatan terbesar perfilman di negeri ini di samping MTV-Movie Awar, Jiffest, dst mbok ya di dukunglah atas nama besar panitia yang sekarang, memang saya akui dari pernyataan sikap itu untuk membekukan FFI sampai tersusun UU perfilman yang baik, LSI, dll belum pada pemenuhan yang tuntas, semua butuh proses.
semoga masalah ini tidak berlarut2 lagi, dan cukup baik untuk dijadikan pelajaran bukan cuma masyarakat film tapi masyarakat keseluruhan.
apa-pun bentuknya, saya terus mendukung MFI dan juga FFI, serta kegiatan Film Indonesia yang lainnya selama ‘FILM’ huruf depannya masih ‘F’.
terima kasih.
December 15, 2007 at 7:57 pm
FFI vs MFI! « Penggerak
[...] yang diberitakan beberapa hari sebelum pengumuman MFI (Masyarakat Film Indonesia) menyatakan Pernyataan sikapnya bahwa beberapa orang yang dinominasikan mencabut [...]
December 16, 2007 at 7:45 am
Patrisia
ini lebih pada pertanyaan sebenarnya:
Kalau tidak suka dengan FFi atas alasan kualitas penilaian yang tidak memenuhi kaidah independensi dan lain sebagainya seperti yang menjadi tuntutan MFI, mengapa MFI tidak membuat medium apresiasi (award2-an) sendiri, yang mengakomodasi nilai-nilai tersebut?
Kalau seorang pelajar tidak yakin dengan sistem penilaian dan evaluasi sekolahnya, yang bisa dilakukan adalah: cari sekolah baru!
Mungkin, anda menuntut perubahan dalam sekolah tersebut jika dan hanya jika mayoritas dalam sekolah tersebut memiliki ide yang sama dengan anda. The worst case: sekolah itu ditinggalkan semua pelajarnya, dan nggak laku..
sederhana saja.
bikin kompetitor nya, bikin lebih banyak award. Supaya medium apresiasi tidak cuma monopoli satu kelompok. Bikin yang banyak sekalian..
daripada energi nya habis cuma buat ngeboikot, anda ajarin masyarakat indonesia secara riil, bukan cuma wacana-wacana..
Speaking about independensi, sejauh apa sih, masyarakat film tidak hanya di indonesia tapi juga the global community, yakin akan kredibilitas seluruh festival film di dunia, cannes, toronto, venice dan sejuta festival yang lain..
apakah mereka juga apply those holly values?
people moves by incentives..
those festivals are exist for some incentives and millions of interest..
and no interests are independent..
neither yours..
December 17, 2007 at 3:58 am
Yosier
Ketika sebuah institusi belum dapat memenuhi keinginan anggotanya bukan berarti angotanya bisa langsung “mendobrak” suatu sistem dengan melakukan sebuah pemboikotan.
FFI sendiri dibentuk dengan maksud untuk mengapresiasi film Indonesia. Bahkan proses untuk perbaikan pembenahan film Indonesia pun masih berlangsung, misalnya perombakan keanggotaan juri-juri pada tahun ini yang diketuai oleh Deddy Mizwar yang membawahi para “profesor2 film” seperti Garin NUgroho,dll. yang juga mengorbankan kredibilitasnya di dalam menyeleksi para pemenang.
Artinya, ketika film yang dimenangkan itu buruk berarti kredibilias beliau2 sebagai praktisi film juga dipertanyakan..
semua ini masih dalam proses,, jadi sebaiknya jangan mengedepankan emosi pembaharuan semata, kita semua ingin film Indonesia menjadi lebih baik. Bahkan mungkin kalau bisa menang Oscar,,
jadi kita dukung aja proses yang sedang berjalan ini,, hadirnya MFI ini bisa bertindak sebagai pemberi sdut pandang lain bukan sebagai penentang sistem yang ada…
seperti kata Om Deddy Mizwar..” Kalau ingin pendapatnya dihargai, belajarlah untuk menghargai pendapat orang lain dulu,, kita semua kan sama-sama masih belajar…”
*Setuju, om….
-saya yang sering nonton film tapi juga concern sama perfilman Indonesia…
December 19, 2007 at 1:42 pm
Prima Rusdi
Salam hormat,
Saya adalah salah satu penandatangan pernyataan MFI, Prima Rusdi–penulis skenario. Saya akan coba jawab. Tidak perlu dengan Bahasa Inggris apalagi pakai acara salah, karena kita sedang bicara soal film Indonesia (people moves? people move kali, festival are exist? festivals exist, kali gitu maksudnya?)
Masalah FFI ini sebetulnya adalah ekses dari hal yang lebih besar yaitu tatanan perfilman nasional. Karena itu, yang kami coba lakukan adalah menuntut perubahan mendasar yang bermuara dari UU Film Tahun 92 yang sudah tidak relevan itu.
Kalau masih tertarik soal FFI, sedikit saja saya tambahkan. Kecuali festival seperti Oscar (Academy Awards), yang memilih pekerja film terbaik dan film terbaik berdasarkan keanggotaan Academy (members of the Academy), semua festival yang Anda jadikan contoh, Toronto, Cannes, dan setahu saya tidak sampai sejuta festival, pasti punya kriteria yang jelas, pasti diadakan dengan pemutaran, dan pasti punya forum yang mempertemukan pekerja film dengan publik juga industri terkait seperti distributor, dll.
Setiap festival pasti ada kepentingan, dan itu sah, asal dikomunikasikan dengan jelas dan transparan.
Mudah-mudahan ini sedikit memberi jawaban. Soal bikin festival lain? Rasanya tidak perlu. Sudah ada Jakarta International Film Festival (JiFFest), yang diselenggarakan dengan kaidah yang benar. Memutar film kepada publik, menunjuk juri, dan melahirkan pemenang dengan kriteria jelas.
Jadi sekali lagi, ini bukan soal festival tapi tata pelaksanaan film di Indonesia.
Terima kasih.
January 12, 2008 at 10:04 am
Rosa
Menurut saya, tujuan MFI sudah benar, yaitu berusaha mengubah tatanan dan tata cara pembuatan film indonesia.
Tapi, apa bisa melaksanakan hal tersebut dengan mengembalikan piala, atau memboikot ffi 2007?
Apa bisa mengubah UU dengan ngamuk dan membuat demonstrasi besar-besaran?
Kenapa sih tidak dibuat saja forum terbuka yang dapat menampung semua aspirasi orang2 perfilman??
Kenapa juga piala citra harus dikembalikan?
Toh pada akhirnya pak menteri gak mau nerima.
Kalau memang MFI ingin membetulkan sistem pelaksanaan film Indonesia, coba contohkan bagaimana seharusnya sistem perfilman indonesia.
Bagaimana UUnya?
Bagaimana bentuk lembaganya?
Bagaimana cara kerjanya?
MFI isinya adalah orang2 yang nantinya akan memajukan perfilman indonesia.
Orang yang sangat kita banggakan sekarang ini karena berhasil memajukan perfilman indonesia.
Maka, MFI memang sudah seharusnya mengawasi tata cara perfilman indonesia.
Tapi, caranya juga yang benar.
Jangan “ambekan”.
Saya hanya memberi masukan, jangan diprotes juga.
Thanks.
January 18, 2008 at 6:57 am
Jaka Septiadi
waaah, keren banget mas Prisma Rusdi atas konfirmasinya,,
dan saya sangat setuju sekali dengan sikap MFI yang memboikot pelaksanaan FFI yang terakhir ini–yang saya saksikan selama beberapa menit waktu itu–dan tidak usah dipungkiri lagi, acara FFI tersebut sama kampungannya dengan acara-acara penghargaan lain seperti Panasonic Awards ataupun AMI Awards yang sudah kehilangan kredibilitasnya dengan cara “menggandeng” masyarakat melalui sms-sms an (suatu sistem balik modal yang terbukti menguntungkan, iya tidak?!)
walaupun pengetahuan saya dan tata cara penyampaian comment saya ini rada ancur, tapi saya (kemungkinan besar) mengerti apa yang dirasakan pihak MFI, seperti yang juga saya rasakan.
cobalah dipikir, ngapain juga MFI buat penghargaan yang dibikin sendiri dan dimenangin sendiri, khan nggak lucu. sekarang itu masalahnya adalah FFI dianggap sebagai penghargaan tertinggi di Indonesia, tetapi apa yang telah dicapai FFI selama beberapa tahun terakhir ini mengecewakan sekali, itulah (yang saya rasa) alasannya mengapa pihak MFI jera mengikutsertakan karyanya ke ajang yang ngakunya bergengsi tersebut.
oya, saya sebenarnya juga terkejut ketika film-film semacam Get Married, Mengejar Mas Mas dan Merah Itu Cinta yang sebenarnya adalah buatan dari anggotanya MFI masuk jadi nominasi. “Lho, katanya mau boikot, kok tetap ikutan sih??? Nggak principle banget???” tapi setelah saya ngebuka website ini saya pun menemukan jawabannya.
semoga saja, pihak FFI tidak merasa tersinggung akan pemboikotan ini karena ini adalah prinsip yang dipegang teguh MFI, terus semangat!!!
saya tahu selama ini pihak MFI dipandang orang lain dengan sebutan sombong, besar hati, dan banyak bermimpi. tapi sebenarnya itulah yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. bukan film-film SEKREATIF MIRACLE (iiih, aku nggak ngopy kok, cuma terinspirasi kok!) dan film-film SEKOMERSIL DAN SEBAGUS EKSKUL (duuh, nih film apa trailer sih, lighting-nya mengganggu sekali) ataupun acara-acara televisi yang SANGAT MENDIDIK, entong (lu pasti masuk surga tong, tenang aja!!!) cookies (wah, remaja gaul mau beraksi) ataupun sinetron ciptaan MD (biang penyiksaan) dan SinemArt (banyak yang dari “inspirasi”, kreatif abis) dan juga reality show di SCTV (ini nih, cerminan anak gaul jakarta yang banyak ditiru orang-orang kalimantan, remaja gaul yang nggak kreatif yang rela tampil PALSU di depan kamera demi segepok uang di acara yang ngakunya REALity show, harusnya FAKE show, karena dipenuhi anak-anak gaul yang palsu, bikin aku muak!)
Domo!!!
(nb: sorry deh, bahasa ancur, omongannya gak logis, gak rasional, banyak mencelanya, memfitnah orang yang tidak tidak dll…piiissss!!!)
dan mengenai acara televisi, mohon maap, saya benar-benar membenci mereka, sumber kekerasan dan kemunafikan yang disaksikan secara GRATIS oleh seluruh orang di Kalimantan Barat (yeah, that’s where I’m living) tapi tidak disensor oleh LSF, karena LSF bukan LST (lembaga sensor televisi), kalian sih enak di Jawa TV kabel bisa murah, kami disini hanya itulah konsumsi sehari-hari. jika saya bisa memilih saya tidak akan memilih acara-acara itu untuk ditonton. tapi, saya tidak ingin menjadi orang yang egois dengan selalu menggenggam remote tivi dan memisahkan keluarga saya dengan acara yang (karena tidak ada pilihan lain) ingin mereka tonton