Pada hari Rabu, 16 Januari 2008, saya menonton film Perempuan Punya Cerita tanpa sensor, di Blitzmegaplex. Itu adalah pertunjukan dengan penonton terbatas (Undangan khusus, atau limited viewing), di mana penonton tidak membayar karcis. Hal ini sudah berjalan dalam berbagai Festival Film di Indonesia.
Film ini sangat bagus dan membuat saya berpikir bahwa perempuan memang harus menceritakan kehidupannya, sehingga kita dapat memikirkan kehidupan yang lebih adil bagi perempuan, di masa yang akan datang.
Karena saya mendengar bahwa sensor untuk film ini adalah salah satunya yang membuat dilakukannya Uji Materi terhadap Undang-Undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, di Mahkamah Konstitusi, khususnya tentang definisi Sensor, maka pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya kembali menonton film Perempuan Punya Cerita di Blitzmegaplex, untuk mengetahui bagaimana sensor yang dilakukan LSF terhadap film ini.
Ternyata sensor yang dilakukan melebihi perkiraan saya, terutama untuk Cerita Jogja. Cerita tentang kehidupan seksual anak-anak SMA di Jogja, yang menurut saya adalah cerita yang paling menarik dan merupakan kekuatan film ini. Sensor yang banyak sekali, tidak hanya adegan-adegan yang dianggap dapat merangsang nafsu birahi, tetapi juga dialog-dialog yang mungkin dianggap bertentangan dengan kesusilaan. Padahal adegan-adegan dan dialog-dialog itu adalah bagian-bagian penting dari alur cerita. Dan anak-anak SMA khususnya, bisa belajar banyak sekali dari film itu. Ketika bagian-bagian penting itu dihilangkan, film yang sebenarnya sangat bagus ini menjadi tidak jelas, dan hilang kekuatannya.
Beruntung sekali saya mendapat kesempatan menonton film itu tanpa sensor pada 16 Januari 2008, sehingga saya menjadi saksi bahwa film itu sebenarnya mengajarkan banyak sekali tentang pentingnya Pengetahuan tentang Seksualitas, khususnya tentang Reproduksi, bagi anak-anak SMA dan SMP.
Dalam penafsiran saya, Cerita Jogja menceritakan bagaimana anak-anak perempuan SMA, dan SMP (ada satu anak perempuan yang diajak melakukan hubungan seksual oleh anak laki-laki SMA), sangat rentan menjadi korban, dari hubungan seksual yang dilakukan dengan pacarnya, atau temannya, seusia mereka, atau lebih tua (ada satu anak perempuan yang berhubungan seksual dengan laki-laki dewasa).
Dalam film tersebut, terlihat bahwa anak-anak perempuan SMA ini penuh rasa ingin tahu, dan menikmati hubungan seksual yang mereka lakukan dengan pacarnya atau temannya. Menarik ketika dalam suatu dialog, mereka bahkan bingung bersikap ketika anak perempuan digilir untuk melakukan hubungan seksual, oleh beberapa anak laki-laki, yang di antaranya adalah pacarnya sendiri. Ada yang marah dan mengatakan itu sangat tidak romantis, tetapi ada yang bertanya, bagaimana rasanya digilir? dengan penuh rasa ingin tahu, dan seperti berpikir mungkin ada kenikmatannya juga.
Anak perempuan sangat rentan menjadi korban, ketika hamil, dan pacarnya atau temannya, tidak mau bertanggungjawab. Digambarkan bahwa anak laki-laki umumnya melakukan hubungan seksual untuk memenuhi rasa ingin tahu, memenuhi fantasi seksualnya, untuk menikmati dan bersenang-senang, serta untuk menunjukkan kemampuannya di antara teman-temannya. Tetapi ketika anak perempuan, yang dengannya ia telah melakukan hubungan seksual, ternyata hamil, mereka tidak mau bertanggungjawab. Dan menyuruh menggugurkannya saja.
Ketika anak perempuan hamil, mereka sungguh-sungguh menjadi korban, sementara anak laki-laki dengan seenaknya berusaha lari dari tanggungjawab. Anak perempuan merasa sangat ketakutan dan sangat sedih. Takut dimarahi orangtuanya, takut memikirkan sekolah dan masa depannya, sedih karena anak laki-laki yang membuat dia hamil tidak mau bertanggungjawab, dan berbagai tekanan psikis lainnya. Mereka mencoba menggugurkan kandungan dengan minum Juice Nanas muda yang dicampur dengan Sprite, selama beberapa hari. Yang tentu saja sangat berbahaya bagi organ reproduksinya. Mereka juga mencoba melakukan aborsi ilegal dengan cara-cara yang sangat menyakitkan, dan tentu sangat membahayakan organ reproduksi dan jiwanya.
Dalam cerita digambarkan anak perempuan itu akhirnya dinikahi oleh salah seorang anak laki-laki yang menggilirnya ketika melakukan hubungan seksual. Dan anak laki-laki itu terpaksa menikahi dia, padahal anak laki-laki itu sebenarnya tidak ingin menikahinya. Bagaimana bisa mengharapkan kebahagiaan, bila kita menikah dengan orang yang tidak mencintai kita?.
Anak perempuan menjadi penanggung terberat dari suatu hubungan seksual yang mengakibatkan kehamilan. Pada anak laki-laki, resikonya adalah ketika akhirnya harus menikah di usia muda (SMA), karena harus bertanggungjawab atas kehamilan anak perempuan, yang dengannya ia telah melakukan hubungan seksual.
Dalam cerita ada juga anak perempuan yang akhirnya mau melakukan hubungan seksual, karena dia merasa laki-laki (dewasa) itu adalah orang yang tepat, yang dia cintai, dan dia kira laki-laki itu juga mencintainya. Tetapi ternyata, ketika waktu untuk pulang ke kota asalnya tiba, laki-laki itu – tanpa beban, berpamitan. Sementara anak perempuan itu sangat sedih ketika menyadari laki-laki itu melakukan hubungan seksual dengan dirinya, mungkin hanya untuk bersenang-senang. Dia ketakutan apakah dia akan hamil atau tidak?. Kasihan sekali.
Dari film tersebut, anak-anak perempuan bisa belajar untuk lebih berhati-hati, dan dapat mengambil sikap, tentang hubungan seksual. Menurut saya yang paling tepat adalah memberikan Pengetahuan tentang Seksualitas, khususnya tentang Reproduksi, bagi anak-anak SMA dan SMP. Mereka harus mengenal organ-organ Reproduksinya, dan tahu segala resiko apabila mereka melakukan hubungan seksual.
Penting juga untuk membentuk mental anak-anak perempuan menjadi lebih kuat dan percaya diri, sehingga mereka tidak takut untuk menolak ketika pacarnya mengajak melakukan hubungan seksual. Tidak takut ditinggalkan atau lainnya. Dan yakin bahwa kalau pacarnya benar-benar menyayanginya, pacarnya itu tidak akan pergi hanya karena dia tidak mau berhubungan seksual.
Bagaimanapun saya sedih mengetahui anak-anak SMA (dan SMP?) telah melakukan hubungan seksual. Hidup mereka masih panjang, alangkah baiknya kalau mereka bisa menahan diri, dan mengalihkan energi dan pikirannya pada hal-hal yang membuat kualitas diri mereka semakin baik. Misalnya: di luar jam sekolah, mereka bisa aktif berorganisasi, menekuni hobby, atau aktif di lingkungannya. Banyak sekali yang bisa dilakukan, selain berhubungan seksual, yang selayaknya dilakukan orang dewasa.
Saya pernah membaca pemikiran dalam suatu buku, yang ditulis oleh Konsultan Perkawinan, yang menurut saya tepat. Pasangan yang berpacaran, jangan terburu-buru tergoda untuk terlibat intim secara seksual. Karena yang akan membuat suatu hubungan kuat, bukan keintiman secara seksual, tetapi ikatan emosional. Pacaran adalah waktu untuk membangun kenangan bersama, waktu untuk saling mengenal sedetil mungkin. Berusaha untuk mengetahui apa yang paling disukai, apa yang paling ditakuti, apa yang membuat sedih, apa yang paling berarti, apa cita-cita dan mimpi masa depan masing-masing, dan lain-lain. Dan bersabar untuk tidak melakukan hubungan seksual, sampai saatnya tiba. Sehingga indah dan membahagiakan.
Una, R. Husna Mulya

24 comments
Comments feed for this article
February 7, 2008 at 1:39 am
jokoparadise
Film pendidikan, jika baca dia atas film tersebut di tujukan untuk mendidik para pelajar nantinya supaya bisa mengerti akibat-akibat seksusal dan akibat lainnya, nah kemasan ini, mungkin lebih cocok di sajikan dalam bentuk cerita novel, bukannya cerita film, dengan ilustrasi-ilustrasi yang merangsang seluruh kemungkinan justru akan membuat audien lebih banyak mencermati setiap kemungkinan, beda dengan di sajikan lewat film audien hanya terpancang pada satu kemungkinan yang disajikan oleh film, tidak selamanya film cocok untuk untuk menyampaikan sebuah ilustrasi yang lengkap dari, bagaiman kalo ebebasan film di bebasakan kayak kehhidupan anak muda itu kan namanya jadi bukan film lagi,.. mending mereka masuk aja dalam kehidupanitu secara lebih nyata. mungkin sebuah tantangan bagi kaum film supaya bisa mendokumentasi kehidupan secara lebih pas untuk di nikmati,.
mengenai badan sensor film, tentunya lebih baik badan itu ada sebagi penguat mutu dari setiap adegan akankah adegan itu benar-benar perlu atau tidak, jika sebnauh adegan seksual meamng benar-benar perlu dan akhirnya badan sensor meluluskan itu menunjukkan betapa adegan itu benar perlu adanya. tapi mana mungkin…!!!
February 8, 2008 at 11:29 am
f1f4
bagi saya hal-hal yang menurut anda tidak patut disensor adalah sesuatu yang sama sekali tidak patut di pertontonkan.
anda pikir dengan pengetahuan seperti itu bisa membekas hal yang positiv di otak kami?anda salah kalau mengganggap itu adalah suatu ajaran. sungguh saya kecewa dengan yang terjadi pada dunia perfilman indonesia.
saya sebagai anak remaja( SMA ) merasa bahwa film seperti itu bukanlah suatu ajaran ataupun ilmu. anda tidak bisa memastikan bahwa seluruh anak muda yang menontonnya tidak akan teransang? atau semacamnya?
justru dengan adanya film itu, mereka lebih penasaran. anda sebaiknya melakukan penelitian tetang apa yang terjadi pada anak muda sekarang,,,,
saya ini anak remaja yang berumur 15 tahun. yang sangat kecewa dengan semua yang terjadi pada anda sekalian. !!!!!!
February 9, 2008 at 7:32 am
f1f4
huhhh… kok gak di confirmasi… gak suka dikomentari ama anak 15 tahun? payah!!!!
February 11, 2008 at 2:36 am
Clay Carter
kepada Yth R. Husna Mulya
Dalam website Aliansi Bhineka tertanggal 17 Mei 2006 dengan judul “RUU Antipornografi dan Pornoaksi (APP) Harus Ditolak” anda secara langsung mengemukakan salah satu alasan bahwa RUU tersebut harus ditolak karena prinsip-prinsip pelarangan pornografi telah diatur dalam UU Perfilman. Dalam tulisan tersebut anda juga memaparkan dengan sangat detail mengenai ketentuan-ketentuan tentang sensor sebagaimana diatur dalam UU No. 8 Tahun 1992.
Adalah terasa sangat ganjil, setidak-tidaknya menurut saya jika dalam tulisan anda sekarang ini yang berjudul “Kekecewaan atas Sensor LSF Terhadap film Perempuan Punya Cerita” anda justru–meskipun secara tidak langsung– menyatakan kekecewaan terhadap pengaturan sensor, padahal pengaturan sensor adalah dalil yang dulu anda gunakan dalam rangka melakukan penolakan terhadap RUU Anti pornografi dan anti pornoaksi. Dimanakah letak konsistensi anda?
Ya bisa jadi saya yang salah dalam menangkap maksud tulisan anda diatas dan bisa juga saya melakukan error in persona karena bisa jadi anda bukan R. Husna Mulya yang menulis dalam website Aliansi Nasional Bhineka TUnggal Ika. Tapi andaikata anda adalah orang yang sama, ini saya berikan link menuju tulisan anda yang mengenai penolakan RUU APP dengan dalil sudah ada pengaturan sensor film,
bhinneka-tunggal-ika.web.id/artikel_detail.php?act=view&id=6
Terima kasih
February 11, 2008 at 3:09 am
Kalam A Effendy
Untuk anak usia 15 tahun cara bicara Anda seperti salah satu dari 45 anggota LSF. Ini komentar saya sebagai pembaca (saya bukan penandatangan petisi MFI). Tapi, saya kebetulan dekat dengan dunia pendidikan, jadi urusan kewajaran cara mengungkapkan pikiran seseorang adalah ‘makanan’ sehari-hari buat saya.
Dan komentar yang kedua, coba diperiksa dulu, apa betul film itu bukan untuk 17 tahun ke atas? Kalau iya, memang tanpa marah-marah pun Anda tidak perlu nonton. Titik.
February 12, 2008 at 10:37 am
lia
sory kalau saya tidak sependapat dengan anda, bagian dari film yang anda gambarkan di atas sama sekali tidak bisa di jadikan pendidikan untk anak, lucu jika anda menyesalkan pemotongan adegan tentang kehidupan seksual anak-anak SMA di Jogja. Bung tidak usah di gambarkan lewat film orang sudah tahu? justru dengan penggambaran lewat film bukan pembelajarn yang di peroleh tapi peniruan. Jangan berdalih semuanya untuk pembelajarn tanyakan pada hati nurani kalian murnikah yang kalian perjuangankan atau di belakangnya Industri yang bermain. Jangan sok lugu karena semuanya mudah di baca DUITlah yang kalian takuti akan hilang
February 12, 2008 at 4:54 pm
luna
Lembaga Sensor Film digantikan Lembaga Klasifikasi FIlm satu-satunya cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat. Kita tidak pernah tahu jika tidak mencobanya. Konsep LSF yang sudah lama(kuno) tanpa memperhatikan perkembangan jaman (teknologi, informasi, dll) sepertinya tidak terlalu relevan lagi berada di masa kini. Kiranya untuk masalah keuntungan (DUIT) itu wajar-wajar saja untuk dipikirkan, bahkan DOKTER sekalipun yang bekerja membantu menyembuhkan orang sakit akan memiliki pertimbangan keuangan karena kita hidup di dunia yang membutuhkan uang untuk bertahan hidup, selain kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa.
February 13, 2008 at 12:30 am
Hati Nurani
Wah…wah…komentarnya pada seru2 banget,pertanyaan pertama saya, apakah teman-teman yang komentar di atas sudah nonton “Perempuan Punya Cerita?” Tonton dulu lah baru kita diskusi. Saya kok malah enggak terangsang sama sekali, malah ngilu ngeliat kenyataan seperti itu? Apalagi film ini diangkat dari hasil riset yang mendalam. Paradoks banget deh dengan “slogan-slogan” moralitas yang didengung-dengungkan para pemuka agama kita. Saya jadi merenung setelah nonton film ini membayangkan apa yang terjadi dengan anak-anak muda dan kaum perempuan kita 5 atau 10 tahun yang akan datang. Kesadaran seperti ini saya pikir merupakan bukti bahwa film ini “menggunakan” adegan-adegan seks untuk mencapai maksud sebaliknya. Dan kalau kalian nonton, sesungguhnya adegan-adegan tersebut masih kalah seram dengan banyak VCD atau DVD bajakan yang bisa kita beli di kaki lima dengan harga 3 ribu atau 5 ribu perak. Lalu keberatan kalian apa?
Kalian takut melihat kenyataan seperti ini? Kok jadi munafik? Kok jadi bangsa yang kerdil karena malu untuk berkaca pada kenyataan di sekelilingnya?
Saya sampai ngelus dada, bagaimana kerusakan yang diakibatkan oleh Orde Baru dengan cara repressi pikiran kritis melalui seluruh kebijakan sensornya ternyata sekarang “merasuk” pada pikiran anda semua. Atas nama agama. moral, kepribadian bangsa; anda semua menolak melihat kenyataan seperti yang dipaparkan oleh “Perempuan Punya Cerita?” cek…cek… mengingat pengakuan kalian bahwa kalian masih muda, saya tambah ngurut dada lagi. Kok muda-muda sudah cupet, kerdil dan malah lebih konservatif… bukankah seharusnya masa muda diisi dengan pikiran merdeka, terbuka dan kritis. Inilah modal yang dimiliki oleh para mahasiswa 1998 ketika menumbangkan Soeharto. mahasiswa 1966 ketika menumbangkan Soekarno, atau malah lebih jauh lagi ketika generasi Soekarno-Hatta memproklamasikan Indonesia.
Kalau begini jadinya, bisa disimpulkan reformasi telah gagal!
February 13, 2008 at 6:14 am
Wazeen
Sudah saatnya kita tidak setengah hati menampilkan seluruh sisi-sisi masayarakat Indonesia, dan sampai kapan kita terus menjadi masyarakat hipokrit? dan saya yakin, karena budaya baca dan tulis masyarakat kita masih perlu lebih ditingkatkan, film-lah yang mampu mengatasi keterbatasan ini, dan kita akan bisa mewujudkan itu jika tidak ada penyensoran, maju terus Masyarakat Film Indonesia!
February 13, 2008 at 10:38 am
setiaji
Saya tertawa membaca artikel ini, sampe terpingkal-pingkal menahan perut biar tidak sakit. Apa yang saya tertawakan ? Karena yang menulis seperti orang kaya yang menceritakan kesederhanaan kehidupannya di tengah-tengah masyarakat yang butuh kepastian beras untuk esok harinya.
Lugasnya, penulis artikel ini orang yang tidak bisa melihat satu sisi yang paling esensi dari kehidupan masyarakat kita. Sisi yang amat sangat penting utk dibahas, tetapi dilupakannya. Sisi apa itu ? Jawab saya, kedewasaan. Sudah seberapa dewasakah mental anak bangsa kita untuk dijejali tontonan macam film yang anda tulis ?
Seperti memaksakan demokrasi ke masyarakat paling bawah, yang sehari-harinya memakan nasi aking untuk menutup laparnya. Saran saya, mbok ya banyak bergaul lah. Lihat kenyataan yang ada berapa banyak pasangan yang menurut kita sudah amat sangat dewasa, tetapi keluar komentar sperti ini ‘Ooo begitu to aslinya’ setelah mereka menikah.
February 17, 2008 at 9:00 am
Clay Carter
@Hati Nurani
hai bung, retorika murahan lo itu kagak bakal laku dijual..lebih baik lo sebarluaskan aja untuk tong-tong sampah yang berjejeran dipinggir jalan….
ga ada relevansinya sama sekali dengan peredaran VCD/DVD karena itu memang sebuah persoalan lain yang harus diselesaikan dengan pemerintah..saya heran koq ada sebegitu bodohnya orang yang mengaitkan DVD/VCD (porno tentunya) yang mudah didapat dengan keberadaan sensor..jelas2 itu dua permasalahan yang sangat berbeda..hey bung, saya tanya, apakah anda sedang bermimpi atau mabuk? atau memang bodoh?
Adegan apapun yang ada di film indonesia tidak bisa diartikan bahwa itu adalah fakta yang menjelaskan keadaan masyarakat indonesia secara keseluruhan. Bisa jadi itu hanya insiden atau setidak-tidaknya suatu aksiden.
Lalu apa kaitannya ya anda membawa-bawa urusan reformasi 1998 kesini? anda mau melakukan pelebaran isu secara cantik? sayang anda gagal! Apakah anda punya andil dalam reformasi 1998? ….reformasi 1998 malah bisa gagal gara2 orang2 seperti anda ini yang gemar menyimpulkan melalui simplifikasi dan generalisasi….belajar yang banyak bung jangan mau kalah sama anak 15 tahun!!
February 18, 2008 at 7:50 pm
arsyame
Sukurlah masyarakat banyak yang menolak aksi MFI ini….!!!! ya ringkasnya sih, perjuangan untuk perut MFI sendiri bukan untuk Rakyat Indonesia.
February 19, 2008 at 8:32 am
link sri
“hai bung, retorika murahan lo itu kagak bakal laku dijual..lebih baik lo sebarluaskan aja untuk tong-tong sampah yang berjejeran dipinggir jalan….”
yaaa… berenti deh ngomong tentang kreativitas… moral… dll dsb. lari-larinya ke laku gak laku dijual juga kahn!!!
February 23, 2008 at 6:02 am
Firman
Allo para MFI (smoga diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa). Saya merasa sangat prihatin dan menyayangkan pemikiran yg kalian tunjukkan secara membabi buta yg tidak kalian sadari (ato mgkn saja ini rencana terselubung pihak tertentu yg menggaji kalian) yg ingin membentuk degradasi moral thd anak2 muda bangsa ini. Klo kalian memang “berpendidikan”, saya yakin kalian tahu bahwa pendidikan itu sendiri merupakan proses pembelajaran, dan dlm proses pembelajaran pasti ada unsur PENIRUAN thd MEDIA PEMBELAJARAN itu sendiri. Shg klo medianya banyak menyajikan yg “negatif”, mk hal negatif itu secara sadar ato tanpa disadari akan diserap oleh alam bawah sadar penontonnya.
Ingat, bahwa alam bawah sadar merekam segala informasi yg masuk tanpa pilih2. Shg benarlah kata pepatah : Teko hanya akan menuangkan apa yg diisikan kedalamnya. Jika diisi kopi, maka yg keluar kopi bukannya teh. Begitu jg dlm pendidikan, jk medianya selalu menyajikan tayangan yg sarat dgn adegan tdk pantas, jgn kaget jk 3 s/d 10 thn ke depan pemuda bangsa ini akan memiliki mental dan moral yg rusak.
Banyak kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan yg dilakukan anak bawah umur krn pikiran mreka dijejali dgn tayangan2 televisi yg menjurus mesum, spt acara dangdut. Itu baru dr televisi, blm jika mrk sering menonton vcd tanpa pengawasan ortunya. (Krn Tdk setiap ortu bs standby mengontrol kegiatan anaknya). Jika kalian mau beristighfar dan merenung, hal2 semacam itu terjadi krn pengaruh lingkungan teruatama media massa (yang saat ini bebasnya kebablasan). Jika kalian memiliki hati nuarani, seharusnya yg kalian perjuangkan itu adl bgm menurunkan tingkat kebobrokan moral yg saat ini scr perlahan terus berjalan.
Memperjuangkan tuk menurunkan tingkat kebobrokan moral perlu dilakukan dgn media yg positif. Mendidik agar anak tdk berbuat yg tdk senonoh bukanlah dgn cara spt : “Hai nak, lihat adegan yg dilakukan orang itu (sambil melihat 2 orang pemuda ato dewasa yg sdg melakukan “cuplikan”adegan mesum). Lalu mengatakan padanya, jgn km lakukan hal spt itu ya!.
Ini bukan cara yg baik dlm memberikan pesan yg positif ke dlm benak anak tsb. Krn akal sehat dan hati nurani tdk bs dicampur mjd gado2 dgn nafsu syahwat.
Klo kalian tetap menutup mata hati kalian, berarti kalian memang telah diperbudak oleh DUIT (yg banyak berkurang jk film yg kalian buat gk ada adegan hotnya). Dan akhirnya kalian hanya mjd saksi bgm anak2 kalian
memiliki moral yg hancur krn pengaruh media dan lingkungan negatifnya.
Viva Bangsa Indonesia
February 25, 2008 at 12:33 am
fia
Untuk MFI yang pengen LSF dibubarin. Kayanya ide2 anda semua, ga relevan deh dengan kondisi dan kultur masyarakat Indonesia.
Jadi..Tolong jangan dipaksakan…
Apalagi sampe memelas-melas ke MK.
Kalo pengen bikin Film tanpa sensor.
Mending Anda2 semua pindah aja ke Amrik semua.
Bikin deh film tanpa sensor disana…
Jangan ngeracunin bangsa Indonesia deh,
dengan dalih ingin memajukan perfilman Indonesia.
Apa anda2 semua ga baca di koran2,
banyak anak2 dibawah umur, sudah berani memperkosa dikarenakan nonton film tanpa sensor, sinetron, atau konser dangdut yang mengumbar goyang.
Gimana kalo korban yang di perkosa, adalah anak perempuan atau adik perempuan atau Ibu anda2 semua????
COba pikir deh….dengan hati nurani.
Kalian bisa berdalih dan menyalahkan,
Kenapa banyak orang tua yang tidak mengawasi anaknya?
Masalahnya….Apakah logis? Disaat film/sinetron tanpa sensor banyak menyerbu bioskop2 dan TV-TV…
semua orang tua harus mengawasi anak2nya sampai 24 jam?
Menguntit kemanapun mereka pergi?
Maaf, Saya hanya Ibu rumah tangga biasa,
yang ingin berkomentar,
karena sangat mengkhawatirkan kondisi anak2 Indonesia saat ini.
Jadi tolong deh…jangan bikin negara ini semakin kacau.
Masih banyak yang harus kita kerjakan untuk negara ini.
Ga usah lah..membuat PR lagi untuk negara ini.
Masih banyak cara untuk membuat film, sinetron ataupun karya seni
yang baik, mendidik dan untuk mencerdaskan bangsa
Tergantung pada kreatifitas anda2 semua
Terima kasih
February 25, 2008 at 10:36 am
rahadian p. paramita
Hmm. Saya kurang sepakat dengan komen bung Firman. Media memang punya hak di satu sisi, dan masyarkat juga punya hak di sisi lain. Keduanya tidak boleh saling melanggar, atau kita akan kena pasal pelanggaran hak asasi. Demi masa depan? Bukan sensor jawabannya, karena itu cuma jawaban sesaat. Apakah dengan sensor kita bisa memiliki generasi muda yang kuat mental, moral, di masa depan? Agenda yang paling rasional adalah MEDIA LITERASI. Media yang resmi pasti punya kode etik, jadi tak usah terlalu risau. Media-media yang ilegal? Ini yang psti lolos sensor. Bagaimana kita bisa ‘melindungi’ generasi muda kita?
Saya tidak suka istilah melindungi, karena itu bukan tugas kita. Kita tidak bisa memperlakukan masyarakat kita seperti anak satu tahun yang sedang belajar berjalan. Yang harus kita lakukan adalah memberi mereka kemampuan mencerna media secara rasional, dan proporsional. Menentang sensor saja, baru memenuhi satu bagian dari kebebasan berekspresi. Tapi kalau tanpa diiringi dengan media literasi secara sistematis, maka kita sedang berada di tengah medan perang tanpa kevlar dan helm.
Apakah di tengah medan perang, orang tidak boleh menembak? Kan lucu. Kalau Anda adalah wartawan perang yang menuntut perlindungan di tengah medan perang, apa yang Anda harapkan? Tidak ada peluru nyasar yang nyelonong ke jidat? Itu sia-sia. Yang perlu Anda sadari adalah, INI MEDAN PERANG. Jadi, jangan sekali-kali masuk ke area engagement. Cari titik yang aman, sambil Anda tetap dapat meliput berita.
Salam!
February 26, 2008 at 6:29 am
luna
pada negara yang sudah menjadikan SINEMA sebagai sebuah aset, maka pembelajaran akan terbentuk dengan sendirinya di dalam masyarakatnya. Jadi kita kapan mau ke arah sana? Jika tidak ada pebicaraan yang terbuka diantara pembuat film dan para pembuat peraturan.
February 27, 2008 at 12:16 am
gila film indonesia
heran juga nih?
banyak yang lupa LSF itu juga nyensor iklan (dalam negeri) dan materi televisi lho! jujur aja isi televisi lebih banyak yang ancur dibanding film-film indonesia! apalagi nonton film kan perlu beli tiket, sementara tv gratisan.
March 3, 2008 at 6:17 am
Jaka Septiadi
hidup MFI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
March 6, 2008 at 6:30 am
firman
@rahadian p. paramita
Saya hargai pendapat anda bung rahadian. Saya hanya menyampaikan fakta dan apa yg menjadi keresahan dalam masyarakat kita. Masyarakat film mempunyai hak utk berkreativitas dan menyampaikan pesannya melalui film yg dibuatnya, tp jgn lupa bhw masyarakat yg menontonnya sbg kosumen jg memiliki hak utk menjauhkan hati nuraninya dr hal2 yg menjurus “negatif”.
Kemampuan mencerna media saja sbg pengganti LSF saya rasa tidak cukup, krn tdk semua konsumen film bisa mencerna media dgn rasionalitas yg baik. Sebenarnya saya ingin menanyakan balik ke anda, kebebasan berekspresi yg bgm yg anda pahami dan inginkan. Saya bukannya tdk setuju dgn kebebasan berekspresi, krn tiap orang bebas mengungkapkan idenya dgn syarat tetap memiliki tanggung jawab moral.
Saya tdk mengatakan bhw hanya dgn LSF saja cara utk menjadikan generasi muda sbg orang yg kuat mental, moral, di masa depan. LSF hanyalah SALAH SATU SARANA utk menghindarkan masyarakat dr hal2 yg kurang pantas utk dilihat (itupun msh blm maksimal). Sarana LSF ini hanya pendukung tdk langsung thd pendidikan yg sdh ada dirumah, sekolah, agama. Pendidikan yg bagus hanya akan berhasil dengan adanya dukungan dr lingkungannya, dan media massanya.
LSF hanya sbg counter yg mengcover konsumen dr efek negatif dr suatu produk perfilman, bukan utk menghalangi kebebasan berekspresi yg bertanggung jawab. Memang segala tindakan ada konsekwensinya, dgn disensor maka konsekwensinya ada cuplikan adegan yg hilang yg menurut MFI hal itu menyebabkan pesan yg disampaikan dlm film tdk utuh lg.
Nah disinilah letaknya TANTANGAN bagi MFI untuk MENUNJUKKAN KREATIVITASNYA dgn menciptakan adegan yg lebih pantas dilihat bg konsumen film tanpa menghilangkan pesan yg ingin disampaikan dlm film tsb, jg tanpa takut lg terkena sensor.
Saya yakin para sineas film kita masih bs menyampaikan ide kreativitas mrk dgn cara yg lebih baik lg, serta bs membuat film yg sarat dgn nilai pendidikan positif tanpa kehilangan unsur hiburannya.
Saya tahu dan sgt sadar bhw ini adl medan perang, yakni perang antara mempertahankan hati nurani melawan “kebebasan berekspresi yg berlebihan”. Klo saya sbg manusia yg memiliki hati nurani hanya diam saja dititik aman melihat peperangan ini, dimana letak kepedulian saya. Krn bg orang yg bermoral, titik aman adl tmpat dimana hati nurani bebas berbicara, bukannya tmpt yg diintervensi oleh kepentingan pribadi.
Salam jg!
March 13, 2008 at 9:24 am
konsumen awam film indonesia
Dear bpk2, ibu, mbak2, mas2 yang berjuang di MFI,
saya hanya orang awam yang senang nonton film (kecuali india dan film esek2), saya mau berbagi komentar di sini karena forumnya seru sekali.
kesenangan saya atas film juga yang bikin saya bisa nyantol di sini.
keinginan saya untuk urun komen sebenernya dipicu hasil nonton acara good morning di transtv yg menampilkan mbak mira lesmana vs anwar fuadi, geli sekali lihat acaranya, jadi gatel utk mengomentari.
teringat masa2 “debat” dengan ortu sendiri….
jadi begini ya…intinya setelah melihat dialog2 antara mbak mira sama pak anwar, keliatan sekali kalo mereka ini ga level dalam memahami masalah yg dibicarakan.
susah ya memang ngomong dengan orang tipe begini…terus terang mudah2an ini ga bikin MFI jadi frustasi karena ternyata yang dihadapi selama ini adalah “tetua-tetua” yang senengnya ngotot dan merasa dirinya paling bener sendiri.
persis lah dengan iklan a mild yg baru, yang muda yg dipandang sebelah mata.
pemikiran MFI yang bukannya ingin menghapuskan LSF, tapi lebih ke merubah sistem sensor yg ada supaya lebih berkeadilan (melalui klasifikasi/rating) sudah tepat sekali.
di situ memperlihatkan bahwa MFI membuka forum untuk dialog, untuk menjembatani pola pikir yg “ga nyambung”, tenggang rasa, toleransi atas perbedaan pendapat yang ada.
tapi sepertinya “orang-orang tua” di LSF sudah kadung memposisikan dirinya sebagai senior yang tidak mau menerima masukan apapun.
takut kehilangan jabatan, kekuasaan, a.k.a duit mungkin?
entahlah….hati nurani pak anwar fuadi yang bisa menjawab.
dari situ saya bisa melihat bahwa perjuangan MFI bakal menemui cobaan yang besar, melihat sejarah bangsa ini yang memang biasanya pakemnya “yang muda yang dianggap sebelah mata”
klise orangtua-orangtua jaman dulu, termasuk orangtua saya sendiri.
semua serba dikebiri, sekali ga boleh ya ga boleh, tanpa penjelasan apapun, dengan dalih inilah yg terbaik utk kamu.titik.
tapi tetap semangat ya!!
karena saya melihat film2 seperti Perempuan Punya Cerita itu sangat menginspirasi sekali bagi orangtua muda seperti saya dengan 1 anak perempuan usia 3th.
dimana saya jadi punya bekal “melindungi” anak gadis tercinta, supaya nanti tidak melakukan “kesalahan” yang sama seperti yg dilakukan kedua orang tuanya (untunglah bapak ibunya saling cinta, jadi kesalahan masa lalu itu setidaknya bisa diperbaiki sambil terus bertobat).
dulu saya taunya cuma “dipingit”, pacaran dikit sudah dituduh macam-macam,dimarahin, intinya cuma dicekokin kamu harus jaga diri, perempuan itu harus gini harus gitu….yang akhirnya malah menurunkan moral dan kepercayaan diri si anak, tapi hasilnya, well…
melalui film ini saya jadi belajar kira-kira apa yg akan saya sampaikan kpd anak saya nanti mengenai sex education.
bukan cuma sekedar memberikan larangan2 dan petuah jaga diri, tapi lebih ke dialog mengenai akibat2 real apa sih yg bakal menimpanya kalau dia sampai memilih melakukan sex pra-nikah.
dan tentunya yg tidak kalah penting, membangun mental dan percaya dirinya supaya pada saat ada di posisi harus menentukan, dia bisa memberikan pilihan yang terbaik.
untuk penonton usia 15 th memang harusnya diusir dari menonton film ini (implikasi dari diterapkannya sistem klasifikasi/rating), makanya saya heran kok anak kecil ini bisa “nyolong” nonton.
dugaan saya persis dengan komen Kalam E Affandy.
mungkin nak f1f4 ini “kuda tunggangannya” LSF, kasian…di forum yang terhormat ini kok masih tidak berani mengungkapkan jati diri secara jantan.
tapi ya sudahlah…kalau saya minta MFI sebagai yang punya blog untuk “mengebiri” komen2 seperti itu, nanti jadi apa bedanya dong dg anwar fuady?
keep up the good work ya!!!
semoga di MK masih ada para bijaksana yang bisa melihat bahwa praktek2 atas nama perlindungan moral bangsa yang diusung oleh LSF secara membabibuta, adalah bentuk nyata pelecehan intelektual dan pembodohan besar2an bangsa indonesia.
to MFI, apa yg bisa orang biasa kayak saya bantu dalam perjuangan anda?
salam,
*saya bukan antek2 MFI, benar2 cuma orang awam yang menemukan banyak pelajaran dari hobi nonton film, boleh dicek kalau tidak percaya*
May 1, 2008 at 1:01 am
yudhi
ya itulah salah satunya keingina RIRI REZA cs yg ngotot LSF dibubarin MEreka ingin FILMNYA YG ANEH2 ngak dipotong, mereka mau indonesia tambah HANCUR
May 16, 2008 at 4:03 am
alejandro gonzalez
Mungkin ada baiknya anggota LSF diisi oleh anggota Presidium MFI atau dari mana pun asal paham benar apa itu SINEMA dan telah melalui uji kelayakan baik secara kognitif maupun psikologis. Jadi mungkin teman2 yang jadi anggota LSF memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi intelektualitas dan moralnya.
Selain paham dan memiliki kredibilitas sebagai praktisi di dalam INDUSTRI maka mereka pun punya tanggung jawab moral terhadap RAKYAT INDONESIA.
Jadi menurut saya mungkin dapat membawa sebuah perubahan yang positif.
Dan mungkin juga korupsi dan penggelapan secara materi yang terjadi dimana2 termasuk mugnkin di badan sensor kita bisa berkurang, dengan kesadaran bahwa yang bekerja disana tidak perlu lagi korupsi karena toh memiliki pekerjaan lain juga.
Atau mungkin bisa disiasati dengan cara bertugas scara bergantian.
May 19, 2008 at 9:17 am
ical
LSF DIBUBARKAN? GAK MUNGKINLAH .TAPI DIREFORMASI JADI LEMBAGA KLARIFIKASI FILM gak masalah,tapi INGAT gunting sensor tetap jalan. coba ingat kasus film LUST:CAUTION, di amerika serikat untuk peredaran di bioskop film ini kena sensor 2 menit, dengan rating NC-17 yg artinya khusus 17 thn keatas dgn pengawasan orang dewasa.jd gak sembarang bisa ditonton, dan memang sang sutradara pasrah filmnya kena sensor,di indonesia kena sensor sekitar 6 menit, dimalaysia kena sensor 15 menit alias botak gak ada adegan sex nya,di cina sami mawon, di daratan eropa beredar dengan mulus sepanjang 159 menit alias utuh tapi dengan label 18 +, alias khusus dewasa, padahal film eropa yg jauh lebih panas saja jarang yg dapat rating seberat itu.ada yg mengatakan adegan panas difilm itu layaknya adegan porno film soft sex,tp disebagian asia timur film ini malah mulus tanpa sensor,seperti di Hong Kong, Jepang,Korea Selatan,Taiwan,sementara di Thailand mulus tp gambarnya dibuat BLUR.ada yg aneh dari film ini,sang sutradara mengatakan di cina memang filmnya kena sensor habis-habisan tapi tidak menggangu alur ceritanya,kalau sdh begini untuk apa cape-cape bikin adegan panas,kalau tanpa adegan itu ternyata tidak masalah,dan memang benar menurut saya alur cerita film ini sudah sangat jelas menerangkan maksud kata Lust tadi,jd tanpa adegan panas juga tidak masalah.Film Perempuan Punya Cerita episode Cerita Jogja sebenarnya tidak perlu memunculkan adegan panas hanya untuk menerangkan maksud cerita ,tp bisa pakai kata-kata saja yg banyak memeri arti kepada kata-kata sex tadi. mengenai batas yang diberikan oleh MFI menurut saya terlalu banyak. cukup dengan yg sudah dipakai sepertisekarang saja, SU= SEGALA UMUR, R= REMAJA 13+, D= DEWASA 17+, TAPI AKAN LEBIH BAGUS JIKA MENGACU PADA KLasifikasi versi MPAA di Amerika sana. ada alasan dibawah logo tadi, seperi R: sexual scene.adult theme, violence,brief language,nudity,etc. bahkan thrailernya pun harus diberi rating juga, ini yg tidak terjadi di kita.dibanding malaysia yg munafik berat terhadap masalah sensor,kita jauh lebih baik, film yg boleh beredar di kita belum tentu bisa beredar disana. bahkan untuk DVD saja para distributor di HongKong lebih memilih memakai teks indonesia,dibanding malaysia dengan alasan dikita pasti bebas sensor,walaupun mungkin yg versi vcd nya kena gunting, coba uji fil Basic Instinct 2 versi VCD dgn DVD originalnya yang selisi hampir 8 menit, sebab yg versi dvd tidak kena sensor. bisa dibayangkan kalau Film Lust:Caution versi Hong Kong beredar dikita tanpa sensor,pasti heboh.memang beredar tp sdh botak,mgk mengambil dari malaysia! jadi mbak2 dan mas2 di MFI, sensor sampai kapanpun penting, tdk ada satu negara pun yg tdk melakukan sensor,thd film,bahkan game pun perlu diberi sensor.banyak contohnya,terlalu panjang utk dijabarkan disini.jadi sudahlah gak perlu melempem dlm berkarya hanya karena takut dipotong sama LSF,gara2 karyanya agak nyeleneh.gak seluruh masyarakat kita bisa menerima adegan panas,tema yg sensitif,atau lainnya yg lebih dashyat lagi,dikota jakarta saja berapa persen yg bisa menerima hidup dengan gaya permisif, gak semua kan?banyak yg protes, kasus film ML,belum berdar tp lsg dibantai habis2an , judulnya saja sdh bikin ngeres,untung gak jadi beredar, entah apa jadinya kalau jadi beredar walaupun sdh lulus sensor.jadi sekarang bikin saja film yg baik tanpa membuat penonton ngeres, taunya filmnya mbak nia dinata ARISAN telah menyuburkan virus Homoseksual , membuat kalangan gay bergembira, seolah mendapat pengakuan,dan lihat saja,jumlah kaun gay di indonesia kabarnya terbesar di dunia,apa tidak memalukan?????. ok,sekian dulu masukan dan unek-unek saya. terima kasih.