<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kekecewaan atas sensor LSF terhadap film Perempuan punya Cerita</title>
	<atom:link href="http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/</link>
	<description>Bergerak Bersama Untuk Perubahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 00:09:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ical</title>
		<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-576</link>
		<dc:creator>ical</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 09:17:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-576</guid>
		<description>LSF DIBUBARKAN? GAK MUNGKINLAH .TAPI DIREFORMASI JADI LEMBAGA KLARIFIKASI FILM  gak masalah,tapi  INGAT gunting sensor tetap jalan. coba ingat kasus film LUST:CAUTION, di amerika serikat untuk peredaran di bioskop film ini kena sensor 2 menit, dengan rating NC-17  yg artinya khusus 17 thn keatas dgn pengawasan orang dewasa.jd gak sembarang bisa ditonton, dan memang sang sutradara pasrah filmnya kena sensor,di indonesia kena sensor sekitar 6 menit, dimalaysia kena sensor 15 menit alias botak gak ada adegan sex nya,di cina sami mawon, di daratan eropa beredar dengan mulus sepanjang 159 menit alias utuh tapi dengan label 18 +, alias khusus dewasa, padahal film eropa yg jauh lebih panas saja jarang yg dapat rating seberat itu.ada yg mengatakan adegan panas difilm itu layaknya adegan porno film soft sex,tp disebagian asia timur film ini malah mulus tanpa sensor,seperti di Hong Kong, Jepang,Korea Selatan,Taiwan,sementara di Thailand mulus tp gambarnya dibuat BLUR.ada yg aneh dari film ini,sang sutradara mengatakan di cina memang filmnya kena sensor habis-habisan tapi tidak menggangu alur ceritanya,kalau sdh begini untuk apa cape-cape bikin adegan panas,kalau tanpa adegan itu ternyata tidak masalah,dan memang benar menurut saya alur cerita film ini sudah sangat jelas menerangkan maksud kata Lust tadi,jd tanpa adegan panas juga tidak masalah.Film Perempuan Punya Cerita episode Cerita Jogja  sebenarnya tidak perlu memunculkan adegan panas hanya untuk menerangkan maksud cerita ,tp bisa pakai kata-kata saja yg banyak memeri arti kepada kata-kata sex tadi. mengenai batas yang diberikan oleh MFI menurut saya terlalu banyak. cukup dengan yg sudah dipakai sepertisekarang saja, SU= SEGALA UMUR, R= REMAJA 13+, D= DEWASA 17+, TAPI AKAN LEBIH BAGUS JIKA MENGACU PADA KLasifikasi versi MPAA di Amerika sana. ada alasan dibawah logo tadi, seperi R: sexual scene.adult theme, violence,brief language,nudity,etc. bahkan thrailernya pun harus diberi rating juga, ini yg tidak terjadi di kita.dibanding malaysia yg munafik berat terhadap masalah sensor,kita jauh lebih baik, film yg boleh beredar di kita belum tentu bisa beredar disana. bahkan untuk DVD saja para distributor di HongKong lebih memilih memakai teks indonesia,dibanding malaysia dengan alasan dikita pasti bebas sensor,walaupun mungkin yg versi vcd nya kena gunting, coba uji fil Basic Instinct 2 versi VCD dgn DVD originalnya yang selisi hampir 8 menit, sebab yg versi dvd tidak kena sensor. bisa dibayangkan kalau Film Lust:Caution versi Hong Kong beredar dikita tanpa sensor,pasti heboh.memang beredar tp sdh botak,mgk mengambil dari malaysia! jadi mbak2 dan mas2 di MFI, sensor sampai kapanpun penting, tdk ada satu negara pun yg tdk melakukan sensor,thd film,bahkan game pun perlu diberi sensor.banyak contohnya,terlalu panjang utk dijabarkan disini.jadi sudahlah gak perlu melempem dlm berkarya hanya karena takut dipotong sama LSF,gara2 karyanya agak nyeleneh.gak seluruh masyarakat kita bisa menerima adegan panas,tema yg sensitif,atau lainnya yg lebih dashyat lagi,dikota jakarta saja berapa persen yg bisa menerima hidup dengan gaya permisif, gak semua kan?banyak yg protes, kasus film ML,belum berdar tp lsg dibantai habis2an , judulnya saja sdh bikin ngeres,untung gak jadi beredar, entah apa jadinya kalau jadi beredar walaupun sdh lulus sensor.jadi sekarang bikin saja film yg baik tanpa membuat penonton ngeres, taunya filmnya mbak nia dinata ARISAN telah menyuburkan virus Homoseksual , membuat kalangan gay bergembira, seolah mendapat pengakuan,dan lihat saja,jumlah kaun gay di indonesia kabarnya terbesar di dunia,apa tidak memalukan?????. ok,sekian dulu masukan dan unek-unek saya. terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>LSF DIBUBARKAN? GAK MUNGKINLAH .TAPI DIREFORMASI JADI LEMBAGA KLARIFIKASI FILM  gak masalah,tapi  INGAT gunting sensor tetap jalan. coba ingat kasus film LUST:CAUTION, di amerika serikat untuk peredaran di bioskop film ini kena sensor 2 menit, dengan rating NC-17  yg artinya khusus 17 thn keatas dgn pengawasan orang dewasa.jd gak sembarang bisa ditonton, dan memang sang sutradara pasrah filmnya kena sensor,di indonesia kena sensor sekitar 6 menit, dimalaysia kena sensor 15 menit alias botak gak ada adegan sex nya,di cina sami mawon, di daratan eropa beredar dengan mulus sepanjang 159 menit alias utuh tapi dengan label 18 +, alias khusus dewasa, padahal film eropa yg jauh lebih panas saja jarang yg dapat rating seberat itu.ada yg mengatakan adegan panas difilm itu layaknya adegan porno film soft sex,tp disebagian asia timur film ini malah mulus tanpa sensor,seperti di Hong Kong, Jepang,Korea Selatan,Taiwan,sementara di Thailand mulus tp gambarnya dibuat BLUR.ada yg aneh dari film ini,sang sutradara mengatakan di cina memang filmnya kena sensor habis-habisan tapi tidak menggangu alur ceritanya,kalau sdh begini untuk apa cape-cape bikin adegan panas,kalau tanpa adegan itu ternyata tidak masalah,dan memang benar menurut saya alur cerita film ini sudah sangat jelas menerangkan maksud kata Lust tadi,jd tanpa adegan panas juga tidak masalah.Film Perempuan Punya Cerita episode Cerita Jogja  sebenarnya tidak perlu memunculkan adegan panas hanya untuk menerangkan maksud cerita ,tp bisa pakai kata-kata saja yg banyak memeri arti kepada kata-kata sex tadi. mengenai batas yang diberikan oleh MFI menurut saya terlalu banyak. cukup dengan yg sudah dipakai sepertisekarang saja, SU= SEGALA UMUR, R= REMAJA 13+, D= DEWASA 17+, TAPI AKAN LEBIH BAGUS JIKA MENGACU PADA KLasifikasi versi MPAA di Amerika sana. ada alasan dibawah logo tadi, seperi R: sexual scene.adult theme, violence,brief language,nudity,etc. bahkan thrailernya pun harus diberi rating juga, ini yg tidak terjadi di kita.dibanding malaysia yg munafik berat terhadap masalah sensor,kita jauh lebih baik, film yg boleh beredar di kita belum tentu bisa beredar disana. bahkan untuk DVD saja para distributor di HongKong lebih memilih memakai teks indonesia,dibanding malaysia dengan alasan dikita pasti bebas sensor,walaupun mungkin yg versi vcd nya kena gunting, coba uji fil Basic Instinct 2 versi VCD dgn DVD originalnya yang selisi hampir 8 menit, sebab yg versi dvd tidak kena sensor. bisa dibayangkan kalau Film Lust:Caution versi Hong Kong beredar dikita tanpa sensor,pasti heboh.memang beredar tp sdh botak,mgk mengambil dari malaysia! jadi mbak2 dan mas2 di MFI, sensor sampai kapanpun penting, tdk ada satu negara pun yg tdk melakukan sensor,thd film,bahkan game pun perlu diberi sensor.banyak contohnya,terlalu panjang utk dijabarkan disini.jadi sudahlah gak perlu melempem dlm berkarya hanya karena takut dipotong sama LSF,gara2 karyanya agak nyeleneh.gak seluruh masyarakat kita bisa menerima adegan panas,tema yg sensitif,atau lainnya yg lebih dashyat lagi,dikota jakarta saja berapa persen yg bisa menerima hidup dengan gaya permisif, gak semua kan?banyak yg protes, kasus film ML,belum berdar tp lsg dibantai habis2an , judulnya saja sdh bikin ngeres,untung gak jadi beredar, entah apa jadinya kalau jadi beredar walaupun sdh lulus sensor.jadi sekarang bikin saja film yg baik tanpa membuat penonton ngeres, taunya filmnya mbak nia dinata ARISAN telah menyuburkan virus Homoseksual , membuat kalangan gay bergembira, seolah mendapat pengakuan,dan lihat saja,jumlah kaun gay di indonesia kabarnya terbesar di dunia,apa tidak memalukan?????. ok,sekian dulu masukan dan unek-unek saya. terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alejandro gonzalez</title>
		<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-574</link>
		<dc:creator>alejandro gonzalez</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 04:03:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-574</guid>
		<description>Mungkin ada baiknya anggota LSF diisi oleh anggota Presidium MFI atau dari mana pun asal paham benar apa itu SINEMA dan telah melalui uji kelayakan baik secara kognitif maupun psikologis. Jadi mungkin teman2 yang jadi anggota LSF memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi intelektualitas dan moralnya.

Selain paham dan memiliki kredibilitas sebagai praktisi di dalam INDUSTRI maka mereka pun punya tanggung jawab moral terhadap RAKYAT INDONESIA.

Jadi menurut saya mungkin dapat membawa sebuah perubahan yang positif.

Dan mungkin juga korupsi dan penggelapan secara materi yang terjadi dimana2 termasuk mugnkin di badan sensor kita bisa berkurang, dengan kesadaran bahwa yang bekerja disana tidak perlu lagi korupsi karena toh memiliki pekerjaan lain juga.
Atau mungkin bisa disiasati dengan cara bertugas scara bergantian.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin ada baiknya anggota LSF diisi oleh anggota Presidium MFI atau dari mana pun asal paham benar apa itu SINEMA dan telah melalui uji kelayakan baik secara kognitif maupun psikologis. Jadi mungkin teman2 yang jadi anggota LSF memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi intelektualitas dan moralnya.</p>
<p>Selain paham dan memiliki kredibilitas sebagai praktisi di dalam INDUSTRI maka mereka pun punya tanggung jawab moral terhadap RAKYAT INDONESIA.</p>
<p>Jadi menurut saya mungkin dapat membawa sebuah perubahan yang positif.</p>
<p>Dan mungkin juga korupsi dan penggelapan secara materi yang terjadi dimana2 termasuk mugnkin di badan sensor kita bisa berkurang, dengan kesadaran bahwa yang bekerja disana tidak perlu lagi korupsi karena toh memiliki pekerjaan lain juga.<br />
Atau mungkin bisa disiasati dengan cara bertugas scara bergantian.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yudhi</title>
		<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-568</link>
		<dc:creator>yudhi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 01:01:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-568</guid>
		<description>ya itulah salah satunya keingina RIRI REZA cs yg ngotot LSF dibubarin MEreka ingin FILMNYA YG ANEH2 ngak dipotong, mereka mau indonesia tambah HANCUR</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya itulah salah satunya keingina RIRI REZA cs yg ngotot LSF dibubarin MEreka ingin FILMNYA YG ANEH2 ngak dipotong, mereka mau indonesia tambah HANCUR</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: konsumen awam film indonesia</title>
		<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-557</link>
		<dc:creator>konsumen awam film indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 09:24:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-557</guid>
		<description>Dear bpk2, ibu, mbak2, mas2 yang berjuang di MFI,

saya hanya orang awam yang senang nonton film (kecuali india dan film esek2), saya mau berbagi komentar di sini karena forumnya seru sekali.
kesenangan saya atas film juga yang bikin saya bisa nyantol di sini.
keinginan saya untuk urun komen sebenernya dipicu hasil nonton acara good morning di transtv yg menampilkan mbak mira lesmana vs anwar fuadi, geli sekali lihat acaranya, jadi gatel utk mengomentari.
teringat masa2 &quot;debat&quot; dengan ortu sendiri....

jadi begini ya...intinya setelah melihat dialog2 antara mbak mira sama pak anwar, keliatan sekali kalo mereka ini ga level dalam memahami masalah yg dibicarakan.
susah ya memang ngomong dengan orang tipe begini...terus terang mudah2an ini ga bikin MFI jadi frustasi karena ternyata yang dihadapi selama ini adalah &quot;tetua-tetua&quot; yang senengnya ngotot dan merasa dirinya paling bener sendiri.
persis lah dengan iklan a mild yg baru, yang muda yg dipandang sebelah mata.

pemikiran MFI yang bukannya ingin menghapuskan LSF, tapi lebih ke merubah sistem sensor yg ada supaya lebih berkeadilan (melalui klasifikasi/rating) sudah tepat sekali.

di situ memperlihatkan bahwa MFI membuka forum untuk dialog, untuk menjembatani pola pikir yg &quot;ga nyambung&quot;, tenggang rasa, toleransi atas perbedaan pendapat yang ada.

tapi sepertinya &quot;orang-orang tua&quot; di LSF sudah kadung memposisikan dirinya sebagai senior yang tidak mau menerima masukan apapun.
takut kehilangan jabatan, kekuasaan, a.k.a duit mungkin?
entahlah....hati nurani pak anwar fuadi yang bisa menjawab.

dari situ saya bisa melihat bahwa perjuangan MFI bakal menemui cobaan yang besar, melihat sejarah bangsa ini yang memang biasanya pakemnya &quot;yang muda yang dianggap sebelah mata&quot;
klise orangtua-orangtua jaman dulu, termasuk orangtua saya sendiri.
semua serba dikebiri, sekali ga boleh ya ga boleh, tanpa penjelasan apapun, dengan dalih inilah yg terbaik utk kamu.titik.

tapi tetap semangat ya!!
karena saya melihat film2 seperti Perempuan Punya Cerita itu sangat menginspirasi sekali bagi orangtua muda seperti saya dengan 1 anak perempuan usia 3th.
dimana saya jadi punya bekal &quot;melindungi&quot; anak gadis tercinta, supaya nanti tidak melakukan &quot;kesalahan&quot; yang sama seperti yg dilakukan kedua orang tuanya (untunglah bapak ibunya saling cinta, jadi kesalahan masa lalu itu setidaknya bisa diperbaiki sambil terus bertobat).
dulu saya taunya cuma &quot;dipingit&quot;, pacaran dikit sudah dituduh macam-macam,dimarahin, intinya cuma dicekokin kamu harus jaga diri, perempuan itu harus gini harus gitu....yang akhirnya malah menurunkan moral dan kepercayaan diri si anak, tapi hasilnya, well...

melalui film ini saya jadi belajar kira-kira apa yg akan saya sampaikan kpd anak saya nanti mengenai sex education. 
bukan cuma sekedar memberikan larangan2 dan petuah jaga diri, tapi lebih ke dialog mengenai akibat2 real apa sih yg bakal menimpanya kalau dia sampai memilih melakukan sex pra-nikah.
dan tentunya yg tidak kalah penting, membangun mental dan percaya dirinya supaya pada saat ada di posisi harus menentukan, dia bisa memberikan pilihan yang terbaik.

untuk penonton usia 15 th memang harusnya diusir dari menonton film ini (implikasi dari diterapkannya sistem klasifikasi/rating), makanya saya heran kok anak kecil ini bisa &quot;nyolong&quot; nonton.
dugaan saya persis dengan komen Kalam E Affandy.
mungkin nak f1f4 ini &quot;kuda tunggangannya&quot; LSF, kasian...di forum yang terhormat ini kok masih tidak berani mengungkapkan jati diri secara jantan.

tapi ya sudahlah...kalau saya minta MFI sebagai yang punya blog untuk &quot;mengebiri&quot; komen2 seperti itu, nanti jadi apa bedanya dong dg anwar fuady?

keep up the good work ya!!!
semoga di MK masih ada para bijaksana yang bisa melihat bahwa praktek2 atas nama perlindungan moral bangsa yang diusung oleh LSF secara membabibuta, adalah bentuk nyata pelecehan intelektual dan pembodohan besar2an bangsa indonesia.

to MFI, apa yg bisa orang biasa kayak saya bantu dalam perjuangan anda?

salam,

*saya bukan antek2 MFI, benar2 cuma orang awam yang menemukan banyak pelajaran dari hobi nonton film, boleh dicek kalau tidak percaya*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear bpk2, ibu, mbak2, mas2 yang berjuang di MFI,</p>
<p>saya hanya orang awam yang senang nonton film (kecuali india dan film esek2), saya mau berbagi komentar di sini karena forumnya seru sekali.<br />
kesenangan saya atas film juga yang bikin saya bisa nyantol di sini.<br />
keinginan saya untuk urun komen sebenernya dipicu hasil nonton acara good morning di transtv yg menampilkan mbak mira lesmana vs anwar fuadi, geli sekali lihat acaranya, jadi gatel utk mengomentari.<br />
teringat masa2 &#8220;debat&#8221; dengan ortu sendiri&#8230;.</p>
<p>jadi begini ya&#8230;intinya setelah melihat dialog2 antara mbak mira sama pak anwar, keliatan sekali kalo mereka ini ga level dalam memahami masalah yg dibicarakan.<br />
susah ya memang ngomong dengan orang tipe begini&#8230;terus terang mudah2an ini ga bikin MFI jadi frustasi karena ternyata yang dihadapi selama ini adalah &#8220;tetua-tetua&#8221; yang senengnya ngotot dan merasa dirinya paling bener sendiri.<br />
persis lah dengan iklan a mild yg baru, yang muda yg dipandang sebelah mata.</p>
<p>pemikiran MFI yang bukannya ingin menghapuskan LSF, tapi lebih ke merubah sistem sensor yg ada supaya lebih berkeadilan (melalui klasifikasi/rating) sudah tepat sekali.</p>
<p>di situ memperlihatkan bahwa MFI membuka forum untuk dialog, untuk menjembatani pola pikir yg &#8220;ga nyambung&#8221;, tenggang rasa, toleransi atas perbedaan pendapat yang ada.</p>
<p>tapi sepertinya &#8220;orang-orang tua&#8221; di LSF sudah kadung memposisikan dirinya sebagai senior yang tidak mau menerima masukan apapun.<br />
takut kehilangan jabatan, kekuasaan, a.k.a duit mungkin?<br />
entahlah&#8230;.hati nurani pak anwar fuadi yang bisa menjawab.</p>
<p>dari situ saya bisa melihat bahwa perjuangan MFI bakal menemui cobaan yang besar, melihat sejarah bangsa ini yang memang biasanya pakemnya &#8220;yang muda yang dianggap sebelah mata&#8221;<br />
klise orangtua-orangtua jaman dulu, termasuk orangtua saya sendiri.<br />
semua serba dikebiri, sekali ga boleh ya ga boleh, tanpa penjelasan apapun, dengan dalih inilah yg terbaik utk kamu.titik.</p>
<p>tapi tetap semangat ya!!<br />
karena saya melihat film2 seperti Perempuan Punya Cerita itu sangat menginspirasi sekali bagi orangtua muda seperti saya dengan 1 anak perempuan usia 3th.<br />
dimana saya jadi punya bekal &#8220;melindungi&#8221; anak gadis tercinta, supaya nanti tidak melakukan &#8220;kesalahan&#8221; yang sama seperti yg dilakukan kedua orang tuanya (untunglah bapak ibunya saling cinta, jadi kesalahan masa lalu itu setidaknya bisa diperbaiki sambil terus bertobat).<br />
dulu saya taunya cuma &#8220;dipingit&#8221;, pacaran dikit sudah dituduh macam-macam,dimarahin, intinya cuma dicekokin kamu harus jaga diri, perempuan itu harus gini harus gitu&#8230;.yang akhirnya malah menurunkan moral dan kepercayaan diri si anak, tapi hasilnya, well&#8230;</p>
<p>melalui film ini saya jadi belajar kira-kira apa yg akan saya sampaikan kpd anak saya nanti mengenai sex education.<br />
bukan cuma sekedar memberikan larangan2 dan petuah jaga diri, tapi lebih ke dialog mengenai akibat2 real apa sih yg bakal menimpanya kalau dia sampai memilih melakukan sex pra-nikah.<br />
dan tentunya yg tidak kalah penting, membangun mental dan percaya dirinya supaya pada saat ada di posisi harus menentukan, dia bisa memberikan pilihan yang terbaik.</p>
<p>untuk penonton usia 15 th memang harusnya diusir dari menonton film ini (implikasi dari diterapkannya sistem klasifikasi/rating), makanya saya heran kok anak kecil ini bisa &#8220;nyolong&#8221; nonton.<br />
dugaan saya persis dengan komen Kalam E Affandy.<br />
mungkin nak f1f4 ini &#8220;kuda tunggangannya&#8221; LSF, kasian&#8230;di forum yang terhormat ini kok masih tidak berani mengungkapkan jati diri secara jantan.</p>
<p>tapi ya sudahlah&#8230;kalau saya minta MFI sebagai yang punya blog untuk &#8220;mengebiri&#8221; komen2 seperti itu, nanti jadi apa bedanya dong dg anwar fuady?</p>
<p>keep up the good work ya!!!<br />
semoga di MK masih ada para bijaksana yang bisa melihat bahwa praktek2 atas nama perlindungan moral bangsa yang diusung oleh LSF secara membabibuta, adalah bentuk nyata pelecehan intelektual dan pembodohan besar2an bangsa indonesia.</p>
<p>to MFI, apa yg bisa orang biasa kayak saya bantu dalam perjuangan anda?</p>
<p>salam,</p>
<p>*saya bukan antek2 MFI, benar2 cuma orang awam yang menemukan banyak pelajaran dari hobi nonton film, boleh dicek kalau tidak percaya*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: firman</title>
		<link>http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-550</link>
		<dc:creator>firman</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 06:30:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://masyarakatfilmindonesia.wordpress.com/2008/02/06/kekecewaan-atas-sensor-lsf-terhadap-film-perempuan-punya-cerita%c2%9d/#comment-550</guid>
		<description>@rahadian p. paramita

Saya hargai pendapat anda bung rahadian. Saya hanya menyampaikan fakta dan apa yg menjadi keresahan dalam masyarakat kita. Masyarakat film mempunyai hak utk berkreativitas dan menyampaikan pesannya melalui film yg dibuatnya, tp jgn lupa bhw masyarakat yg menontonnya sbg kosumen jg memiliki hak utk menjauhkan hati nuraninya dr hal2 yg menjurus &quot;negatif&quot;. 

Kemampuan mencerna media saja sbg pengganti LSF saya rasa tidak cukup, krn tdk semua konsumen film bisa mencerna media dgn rasionalitas yg baik. Sebenarnya saya ingin menanyakan balik ke anda, kebebasan berekspresi yg bgm yg anda pahami dan inginkan. Saya bukannya tdk setuju dgn kebebasan berekspresi, krn tiap orang bebas mengungkapkan idenya dgn syarat tetap memiliki tanggung jawab moral.

Saya tdk mengatakan bhw hanya dgn LSF saja cara utk menjadikan generasi muda sbg orang yg kuat mental, moral, di masa depan. LSF hanyalah SALAH SATU SARANA utk menghindarkan masyarakat dr hal2 yg kurang pantas utk dilihat (itupun msh blm maksimal). Sarana LSF ini hanya pendukung tdk langsung thd  pendidikan yg sdh ada dirumah, sekolah, agama. Pendidikan yg bagus hanya akan berhasil dengan adanya dukungan dr lingkungannya, dan media massanya.

LSF hanya sbg counter yg mengcover konsumen dr efek negatif dr suatu produk perfilman, bukan utk menghalangi kebebasan berekspresi yg bertanggung jawab. Memang segala tindakan ada konsekwensinya, dgn disensor maka konsekwensinya ada cuplikan adegan yg hilang yg menurut MFI hal itu menyebabkan pesan yg disampaikan dlm film tdk utuh lg. 
Nah disinilah letaknya TANTANGAN bagi MFI untuk MENUNJUKKAN KREATIVITASNYA dgn menciptakan adegan yg lebih pantas dilihat bg konsumen film tanpa menghilangkan pesan yg ingin disampaikan dlm film tsb, jg tanpa takut lg terkena sensor. 

Saya yakin para sineas film kita masih bs menyampaikan ide kreativitas mrk dgn cara yg lebih baik lg, serta bs membuat film yg sarat dgn nilai pendidikan positif tanpa kehilangan unsur hiburannya. 

Saya tahu dan sgt sadar bhw ini adl medan perang, yakni perang antara mempertahankan hati nurani melawan &quot;kebebasan berekspresi yg berlebihan&quot;. Klo saya sbg manusia yg memiliki hati nurani hanya diam saja dititik aman melihat peperangan ini, dimana letak kepedulian saya. Krn bg orang yg bermoral, titik aman adl tmpat dimana hati nurani bebas berbicara, bukannya tmpt yg diintervensi oleh kepentingan pribadi.

Salam jg!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@rahadian p. paramita</p>
<p>Saya hargai pendapat anda bung rahadian. Saya hanya menyampaikan fakta dan apa yg menjadi keresahan dalam masyarakat kita. Masyarakat film mempunyai hak utk berkreativitas dan menyampaikan pesannya melalui film yg dibuatnya, tp jgn lupa bhw masyarakat yg menontonnya sbg kosumen jg memiliki hak utk menjauhkan hati nuraninya dr hal2 yg menjurus &#8220;negatif&#8221;. </p>
<p>Kemampuan mencerna media saja sbg pengganti LSF saya rasa tidak cukup, krn tdk semua konsumen film bisa mencerna media dgn rasionalitas yg baik. Sebenarnya saya ingin menanyakan balik ke anda, kebebasan berekspresi yg bgm yg anda pahami dan inginkan. Saya bukannya tdk setuju dgn kebebasan berekspresi, krn tiap orang bebas mengungkapkan idenya dgn syarat tetap memiliki tanggung jawab moral.</p>
<p>Saya tdk mengatakan bhw hanya dgn LSF saja cara utk menjadikan generasi muda sbg orang yg kuat mental, moral, di masa depan. LSF hanyalah SALAH SATU SARANA utk menghindarkan masyarakat dr hal2 yg kurang pantas utk dilihat (itupun msh blm maksimal). Sarana LSF ini hanya pendukung tdk langsung thd  pendidikan yg sdh ada dirumah, sekolah, agama. Pendidikan yg bagus hanya akan berhasil dengan adanya dukungan dr lingkungannya, dan media massanya.</p>
<p>LSF hanya sbg counter yg mengcover konsumen dr efek negatif dr suatu produk perfilman, bukan utk menghalangi kebebasan berekspresi yg bertanggung jawab. Memang segala tindakan ada konsekwensinya, dgn disensor maka konsekwensinya ada cuplikan adegan yg hilang yg menurut MFI hal itu menyebabkan pesan yg disampaikan dlm film tdk utuh lg.<br />
Nah disinilah letaknya TANTANGAN bagi MFI untuk MENUNJUKKAN KREATIVITASNYA dgn menciptakan adegan yg lebih pantas dilihat bg konsumen film tanpa menghilangkan pesan yg ingin disampaikan dlm film tsb, jg tanpa takut lg terkena sensor. </p>
<p>Saya yakin para sineas film kita masih bs menyampaikan ide kreativitas mrk dgn cara yg lebih baik lg, serta bs membuat film yg sarat dgn nilai pendidikan positif tanpa kehilangan unsur hiburannya. </p>
<p>Saya tahu dan sgt sadar bhw ini adl medan perang, yakni perang antara mempertahankan hati nurani melawan &#8220;kebebasan berekspresi yg berlebihan&#8221;. Klo saya sbg manusia yg memiliki hati nurani hanya diam saja dititik aman melihat peperangan ini, dimana letak kepedulian saya. Krn bg orang yg bermoral, titik aman adl tmpat dimana hati nurani bebas berbicara, bukannya tmpt yg diintervensi oleh kepentingan pribadi.</p>
<p>Salam jg!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
