PERNYATAAN SIKAP DAN PENDAPAT
KFT-Asosiasi Sineas Indonesia ( KFT – ASI )
TERHADAP KONDISI PERFILMAN INDONESIA MASA KINI

 

1. Situasi “kemelut” atau “gonjang ganjing” dalam dunia perfilman sekarang adalah gambaran nyata dari carut marutnya dunia perfilman Indonesia. Iklim dan perikehidupan dunia perfilman Indonesia itu tidak sehat !

2. Perubahan dan perbaikan perlu segera dilakukan. Suka tidak suka perubahan atas segenap unsur yang tidak sehat dan menghambat kreatifitas penciptaan dan pengembangan perfilman Indonesia memang harus dilakukan kalau kita mau ada perbaikan kearah iklim perfilman yang lebih sehat dan kondusif.

3. Keinginan dan tuntutan perubahan adalah juga sejalan dengan visi dan misi Pengurus Organisasi KFT-ASI sekarang. Pada level yang lain KFT-ASI pun selama ini sebenarnya telah berusaha berbuat dan berupaya keras melakukan dan mendorong terjadinya perubahan serta perbaikan iklim perfilman secara konseptual dan sistematis kearah kondisi yang lebih sehat, meski dalam tataran pelaksanaan prosesnya berjalan relatif lambat dan hasilnya masih terbatas karena situasi yang begitu membatasi dan tidak kondusif.

4. Melihat dan mengingat betapa lemah dan sangat minimnya peran dan aktifitas positif serta distorsi sikap dan fungsi dari badan-badan perfilman yang ada menyentakkan kesadaran kita untuk harus segera bertindak melakukan dan mendorong dinamika terjadinya perubahan.

5. Perubahan konstruktif sangat perlu dilakukan secara sistematis dan konseptual sifatnya sehingga dapat efektif mencapai sasaran serta tidak hanya sekedar reaksi-reaksi sesaat, semu dan tambal sulam semata.

6. Organisasi KFT-ASI melihat “gugatan dan tuntutan” yang timbul sekarang sebenarnya hanya salah satu “letusan” dari suatu akumulasi ketidakpuasan serta salah satu bentuk dari berbagai aksi perlawanan insan film atas kungkungan dan dominasi yang tidak konstruktif dari badan perfilman yang tidak transparan, tidak aspiratif dan kurang demokratis; serta tidak siap akan tuntutan perubahan dan dinamika zaman yang terus berkembang.

7. Suatu gerakan seperti “aksi pengembalian piala Citra” dari sejumlah insan film Indonesia, mestinya dilihat dalam konteks diatas; konteks keinginan untuk memperbaharui diri dan berubah lebih baik; dilihat dalam sudut pandang “kecintaan terhadap film Indonesia” serta “film Indonesia adalah milik kita bersama” dan karenanya harus berbuat untuk memperbaiki peri kehidupan perfilman Indonesia kearah yang lebih baik dan sesuai dinamika perkembangan zaman.
Bahwa dalam pengungkapan atau penyampaian ada cara-cara dan gaya (style) yang mungkin “kurang enak” atau”kurang sesuai selera”, itu adalah soal lain; tetapi tidak harus menafikan “nafas utama” atau esensi dan filosofi atas keinginan dan kebutuhan perubahan tersebut.

8. KFT-ASI tidak puas terhadap fungsi dan peran BP2N serta menilai kinerjanya sangat minim dan jauh dari yang diharapkan. Fungsi dan peran BP2N bias dan banyak distorsi serta performance-nya mengecewakan. KFT-ASI juga kecewa terhadap sikap dan cara bereaksi BP2N menghadapi masalah, seperti reaksinya yang tidak tepat dan berlebihan dalam menanggapi aksi insan film yang menggugat melalui “symbol” pengembalian piala Citra. Sikap dan cara BP2N dalam menanggapi gugatan kekecewaan insan film Indonesia tersebut kami nilai tidak tepat dan tidak menyelesaikan permasalahan; kurang peka, kurang mampu bersikap dewasa serta tidak sanggup bersikap sesuai dengan martabat sebagai “lembaga tinggi perfilman”. Sikap bertahan, menyerang balik dan pembelaan diri yang berlebihan sungguh kami sayangkan. Sikap dan reaksi berlebihan dan tidak proporsional tersebut-lah antara lain yang membuat situasi menjadi semakin keruh dan bias dari esensi persoalannya. Pengurus BP2N tidak mampu bersikap jernih dan obyektif; tetapi malahan menampakkan sosok wajah arogansi yang tidak produktif dan tidak reformis. BP2N disini gagal tampil meyakinkan dirinya sebagai “lembaga tinggi perfilman” yang paham akan dinamika perfilman secara aktual dan positif; dia hanya mampu menampakkan diri dalam sosok sebagai lembaga yang ketinggalan zaman, expired dan tidak up to date lagi.
BP2N kembali menunjukkan kegagalannya menjadi lembaga representasi kepentingan perfilman Indonesia.

9. KFT-ASI mengingatkan dan mendesak Pemerintah agar cepat tanggap dan aktif secara proporsional dan aspiratif sesuai peran, fungsi dan tanggung jawabnya, bersama organisasi perfilman dan insan film yang masih punya komitmen dan keberpihakan yang jelas dan konstruktif terhadap film Indonesia sebagai karya budaya bangsa, untuk menentukan solusi dan mengambil tindakan positif, guna membantu penyelesaian masalah perfilman kita.
Kami mendesak untuk segera diambil langkah cepat melakukan perubahan dan pembaharuan kebijakan tentang perfilman; mengambil langkah restrukturisasi dan revitalisasi lembaga BP2N serta juga LSF; guna penyelamatan, penyehatan dan kemajuan perfilman Indonesia.

10. Lembaga BP2N saat ini sudah kehilangan kredibilitas. BP2N yang sudah kehilangan kredibilitasnya ini sebaiknya segera dibekukan saja sampai tindakan perubahan, pembaharuan dan revitalisasi yang positif dapat dilaksanakan.

Jakarta, 11 Januari 2007

Pimpinan Organisasi
KFT-Asosiasi Sineas Indonesia

ENISON SINARO ADITYAWARMAN
Ketua Umum Sekretaris Jenderal