Oleh: Ibnu Rizal       

Pernyataan sikap para sineas muda dalam bentuk “pengembalian Piala Citra” merupakan tahap awal kemuakan mereka terhadap sistem yang selama ini bertahta.

Sejak pertama kali diselenggarakan, pada tahun 1955, Festival Film Indonesia (FFI) dengan Piala Citra sebagai simbol kebanggaannya merupakan satu-satunya lembaga formal yang mengapresiasi film layar lebar karya sineas dalam negeri. Memang tidak dapat disangkal bahwa FFI memiliki peran yang cukup besar di dalam peta perfilman nasional. Tetapi sebagai lembaga yang kokoh dan sarat oleh semangat birokratis FFI nyata tidak luput dari kebobrokan dari masa ke masa. Dalam setiap penyelenggaraannya FFI selalu mengundang decak kagum sekaligus tanda tanya besar, terutama menyangkut “sistem kerja” di dalam tubuhnya. Gejala ini sudah terlihat bahkan sejak masa Usmar Ismail ketika para insan perfilman terhenyak dan tidak habis pikir bagaimana film Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail tidak mendapat penghargaan untuk kategori Sutradara Terbaik. Keresahan yang sama juga dilontarkan oleh Misbach Yusa Biran yang mengkritik keras sistem penjurian FFI pada masa itu.

Zaman terus berganti. Negeri ini mengalami guncangan pada berbagai sektor. Krisis demi krisis yang terus menghantam, kebusukan pemerintahan masa lalu, membawa negeri ini menuju satu titik nol di mana awal dan akhir bertemu: reformasi. 1998 adalah rahim bagi embrio-embrio baru yang akan mengisi negeri ini dengan sesuatu yang lebih baik sambil terus berusaha mengais pelajaran yang tertinggal dari bayang-bayang kelabu hari kemarin. Tetapi nyatanya masih ada yang belum berubah. Beberapa sistem bobrok warisan masa lalu nyatanya masih ada yang tersisa. Sistem itu ada pada aspek kehidupan yang selama ini dipandang sebelah mata padahal sesungguhnya aspek itulah yang menjadi bara api bagi peradaban sebuah bangsa: kebudayaan. Namun amat ironis mengetahui bahwa lembaga yang memegang aspek primer ini nyatanya masih merupakan lembaga lama yang bekerja dengan tangan-tangan dan paradigma usang.

Film-film nasional karya sineas anak negeri yang bekerja dengan tertatih-tatih pada periode pasca reformasi adalah salah satu wujud semangat kebudayaan baru yang akan mewarnai khasanah kebudayaan Indonesia kontemporer. Karya-karya mereka terus mengalir deras hingga hari ini. Namun sayang, sineas-sineas muda itu seperti terperangkap ke dalam mulut singa bernama sistem masa silam.

FFI tampaknya belum (benar-benar) bisa membangun sebuah keterkaitan antara dirinya dengan kondisi kebudayaan kontemporer. Ia, sejujurnya, masih menggeliat dari tidur panjangnya yang penuh oleh mimpi-mimpi masa lalu dan ketika terbangun melihat bahwa betapa keadaan telah berubah sepenuhnya. Dengan latah, tergopoh-gopoh, dan terkaget-kaget ia beranjak dari tidurnya pada tahun 2004 untuk melaksanakan tugas rutinnya setiap tahun: menyelenggarakan ajang penganugerahan bagi film-film yang menurutnya berkredibilitas. FFI seolah menyembunyikan kegagapannya di tengah hiruk-pikuk ide-ide cemerlang yang mewarnai semangat pembaharuan. Menyedihkan bila kita mencermati ajang penganugerahan ini, kita tidak melihat sebuah “perbedaan spirit” yang membedakannya dengan penyelenggaraannya di masa lalu. Spirit yang betul-betul bisa mewakili zaman kontemporer ini. Yang berbeda adalah judul film, sutradara, dan aktor-aktris muda belia, selebihnya hanyalah siklus.

Pengembalian Piala Citra sama sekali bukan permasalahan yang sepele, apalagi jika dikaitkan dengan kecemburuan para nominator yang kalah, hal ini tidak ada kaitannya dengan emosi atau “orkes sakit hati” seperti yang dituduhkan oleh mereka yang merasa memiliki kredibilitas. Peristiwa ini adalah teriakan putra-putri bangsa, para sineas muda, yang merasa diapresiasi secara tidak relevan. Sebuah manifesto, pernyataan sikap arus progresif yang mempertanyakan kekuasaan mereka yang berada di atas. Kami (sineas muda) butuh sebuah lembaga yang sehat dan transparan yang memang pantas untuk menjadi sebuah lembaga apresiasi, bukan sebuah lembaga yang cukup puas dengan hanya menyandang jubah wibawa dan kehormatan.

Generasi Mira (istilah ini diambil dari sebutan Eros Djarot terhadap insan perfilman kontemporer tanah air) hanyalah korban eksploitasi secara tidak langsung oleh sebuah sistem. Mungkin kata “eksploitasi” terkesan berlebihan, namun memang begitulah kenyataannya. Mereka, dengan segala kegairahan dan semangat, sejak awal harus tersaruk-saruk menghadapi berbagai hambatan dalam proses produksi film-film mereka tanpa sedikitpun mendapat uluran tangan dari pemerintah. Usaha mereka berhasil, perfilman Indonesia bangkit, lantas FFI sebagai corong lembaga “birokrat” dalam dunia perfilman mencoba tampil ke depan seolah memayungi dan mengapresiasi kreativitas para sineas itu. Tetapi kini untuk mengapresiasi secara benar saja tampaknya lembaga itu belum bisa melakukannya dengan baik. Harian Kompas menjelang akhir tahun 2006 sempat menurunkan artikel menarik dalam rubrik khusus kebudayaan urban mengenai retrospeksi perfilman tanah air yang ditulis oleh Bre Redana. Tulisan itu mampu menangkap secara jeli dan kritis film-film Indonesia kontemporer, khususnya periode 2005-2006. Artikel itu menilai dengan analisis yang logis disertai pendekatan yang betul-betul relevan. Bahkan sebuah kesalahan kecil namun fatal dalam film-film tersebut (salah satunya yang ada di dalam film yang memenangi Piala Citra 2006 untuk kategori Film Terbaik!) pun bisa dideteksi. Hal ini sungguh memalukan.

Bicara mengenai dukungan, hingga hari ini hal itu belum terlihat secara konkrit. Dukungan itu masih berwujud slogan-slogan kosong padahal pemerintah baik secara langsung maupun tidak memperoleh keuntungan dari pesatnya pertumbuhan film-film nasional kontemporer. Hal yang sama juga dialami oleh JiFFest (Jakarta Internasional Film Festival), satu-satunya festival film di Indonesia berskala mancanegara yang dalam usianya yang kedelapan nampaknya sudah harus tenggelam akibat dukungan yang amat minim dari pemerintah. Mereka seolah-olah berpura-pura menutup mata terhadap permasalahan kebudayaan. Kemajuan kebudayaan nasional tidak diiringi oleh sebuah sistem yang relevan.

Barangkali sebetulnya, mereka, para sineas muda pekerja keras itu, tidak betul-betul membutuhkan sebuah lembaga usang semacam itu karena toh dengan atau tanpa peranannya pun mereka tetap bisa berkarya. Buktinya mereka sendiri lahir tanpa bantuan siapa-siapa, mereka lahir dari semangat zaman itu sendiri.

Sebelum peristiwa ini mengerucut menjadi benturan antar-generasi yang lebih tajam, FFI dan kawan-kawannya harus rela untuk sejenak berintrospeksi, bahkan kalau perlu merombak secara total pergerakan sistem yang ada di dalamnya sesuai kondisi aktual yang ada sekarang ini.

Generasi Mira adalah generasi yang terjebak di dalam sebuah cul-de-sac (diambil dari bahasa prancis yang juga menjadi judul film yang menandai dimulainya perfilman nasional kontempores “Kuldesak”) , sebuah kondisi yang gelap dan hampa dalam sebuah negara yang buta.

(penulis adalah mahasiswa FIB-UI, sastra prancis, anggota komunitas apresiasi film di Universitas yang sama)
 

(13 Januari 2007)

sumber: www.layarperak.com