You are currently browsing the monthly archive for April 2007.

Dimas Jayasrana

Kalau kita bicara tentang komunitas film di Indonesia, mungkin pertanyaan pertama yang menarik untuk dimunculkan adalah; ada dimana posisi serta peran komunitas film dalam konstelasi perfilman Indonesia? Semenjak booming kelahirannya generasi baru diujung tahun 90an, komunitas film tampaknya menjadi entitas tersendiri dalam wacana perfilman Indonesia. Ia ada namun dianggap tak ada; semacam bayang-bayang dalam situasi yang juga sama gelapnya dilevel lain seperti industri perfilman Indonesia itu sendiri.
Read the rest of this entry »

Advertisements

Agus Mediarta

Pengantar

Dalam sejarah, jatuh bangunnya perfilman Indonesia melekat pada penyelenggaraan FFI. Sejak penyelenggaraannya yang pertama pada 1955, penyelenggaraannya kembali pada 1973, hingga penghentiannya pada 1992, FFI adalah satu-satunya tolok ukur pencapaian terbaik film Indonesia. Penghargaan apa pun di ajang FFI memberi wacana dalam perkembangan perfilman Indonesia. Makna historis pada penghargaan FFI melekat baik pada karya film maupun seniman filmnya. Itulah alasan munculnya harapan besar bahwa film Indonesia akan maju kembali saat FFI kembali ada setelah mati suri selama sebelas tahun. Read the rest of this entry »

Kutipan dari diskusi yang berlangsung di antara petitioner MFI seputar pelantikan anggota BP2N yang baru…

Danielle Harry:
Jika boleh jujur, angkatan sekarang ini mesti berani mengkoreksi. Tak perlu disebutin nama. Ada yang pernah menjabat ketua BP2N, ada yang anggota. Dan kini mereka masuk lagi ke dalam gedung yang pernah disegel PLN karena tak bayar iuran listrik bulanan itu. Tentunya
alasan yang baik untuk melakukan perubahan dari dalam.Tetapi sadarkah jika yang sedang dihadapi generasi ini adalah mutan-mutan Orde Baru?

Riri Riza:
Tidak mungkin mereka [anggota baru BP2N] bisa bersikap kritis dan melakukan pembaruan total bila persoalannya datang dari pemerintah yang menyuapi mereka, dan
jangan lupa, wakil pemerintah juga duduk didalam BP2N. Kita sudah capek diam lama lama dan sejak proklamasi 3 Januari telah melakukan apa yang kita bisa lakukan sebagai masyarakat sipil, karena urusan film bukan cuma monopoli orang tunjukan pemerintah bukan?

Sastha Sunu:
Jadi biarlah ENERGI kita tidak terbuang percuma untuk memikirkan kemungkinan berdialog dengan BP2N baru ini.

Eric Sasono:
…kita harus mengantisipasi bahwa apa yang kita bicarakan tak akan berbuah apapun. Sekalipun ada orang-orang yang sepaham dengan kita dan beberapa penandatangan petisi, saya tak yakin bahwa mereka akan bisa mengubah keadaan. Terus saja jalani “perlawanan struktural” yang sudah kita nyatakan.

Olin Monteiro:
Sebaiknya kita kembali ke statement awal tuntutan kita itu. Kalau kita tolak BP2N, sebaiknya tolak BP2N terus, kita harus konsisten dengan kampanye. Kalau kita berubah-rubah mungkin opini publik akan mempertanyakan posisi kita.

Nirwan Arsuka:
BP2N yang kita hadapi ini, secara kelembagaan, tetaplah BP2N yang sama dengan BP2N yang lalu. Ia adalah badan yang dibuat menurut semangat dan aturan perundang-undangan yang lama, yang kita semua sepakat: sudah KETINGGALAN JAMAN.

Tito Imanda:
Yang kita butuhkan bukan Badan Perfilman yang mengakomodir kebutuhan pemerintah atau kepentingan politik Pak Menteri. Bukan yang memberi pertimbangan soal poltik negara pada pembuat film, tapi memberi pertimbangan industri dan kultural pada pemerintah.
Bukan pelaksana kebijakan, tapi mempengaruhi kebijakan. Kita perlu Badan, Komisi, lembaga,
Asosiasi, apa pun namanya, yang berorientasi pada satu dan hanya satu hal: pengembangan film kita.

Ronnie Harjo:
mudah2an- perlawanan struktural (dan feodal birokratis hehehe…) akan menjadi trendsetter kelompok-kelompok lain untuk menciptakan iklim demokratisasi di segala bidang di negara kita.

Perubahan Masih Jauh

dari Konferensi Pers Penolakan Pelantikan BP2N, 5 April 2007

MFI tetap merasa kita membutuhkan perubahan yang bersifat struktural dan menyeluruh serta bukan hanya parsial, bila ingin perfilman kita bisa maju. Di luar itu, dari mekanisme pemilihan anggota BP2N yang masih juga tidak transparan, MFI yakin hal ini bisa jadi pertanda bahwa niat MFI untuk mengajak semua lapisan masyarakat mengatasi masalah perfilman dan untuk itu salah satu syarat yang diperlukan adalah transparansi – belum betul-betul ditanggapi dengan serius oleh sebagian pihak.

Pagi tanggal 5 April 2007, tiga penandatangan pernyataan MFI Paquita Widjaja, Joko Anwar dan John Badalu (yang sudah menolak pencalonan mereka selaku anggota BP2N yang akan dilantik) bersama anggota Presidium MFI (Alex Sihar, Mira Lesmana, Riri Riza, Shanty Harmayn, Ody Harahap, Nia Dinata, Sari Mochtan, Abduh Azis dan Arya Agni), memberikan keterangan resmi kepada para wartawan yang hadir.

Baik Paquita Widjaja, John Badalu, maupun Joko Anwar, sepakat sejak awal mereka tak pernah menunda keinginan untuk menolak tawaran tersebut. Ketiganya mengajukan sikap menolak sejak awal, didasari pertimbangan pribadi sesuai dengan prinsip kerja profesional masing-masing, dan bukan atas paksaan siapapun. Mereka langsung menyatakan penolakannya terhadap pencalonan ini karena tak ingin membuat pihak BP2N menunggu-nunggu kepastian mereka. Paquita mengatakan sejak Januari pun ia sudah menegaskan dirinya tidak bersedia untuk bergabung, namun tidak ada jawaban yang jelas dari pihak BP2N. Hal yang sama juga terjadi pada John Badalu dan Joko Anwar.

Upaya Dialog MFI dengan BP2N Buntu
Presidium mengirimkan surat resmi kepada BP2N, hal ini merujuk pada tuntutan Masyarakat Film Indonesia tertanggal 3 Januari 2007, yang kemudian ditindak-lanjuti dengan upaya berdialog dengan pihak BP2N serta wakil dari panitia penyelenggara FFI tertanggal 30 Januari 2007. Dalam percakapan pada tanggal 30 Januari itu telah terjadi kesepakatan dengan pihak BP2N akan kesungguhan kedua belah pihak sama-sama memikirkan jalan terbaik sebagai solusi atas sejumlah masalah yang menghadang perfilman kita saat ini. MFI mengirimkan surat pada 5 April 2007 yang menyatakan menyayangkan ketidakseriusan pihak BP2N memegang janji mereka dengan pihak MFI dalam pertemuan 30 Januari 2007 tersebut. MFI kembali menekankan akan tetap bertahan pada tuntutan bersama yang dicetuskan pada tanggal 3 Januari 2007 di Teater Kecil, tanpa ingin mengubah apapun yang ada di dalam pernyataan tersebut.

Download pernyataan lengkap MFI menolak pelantikan anggota BP2N 5 April 2007

Ini adalah situs resmi sementara Masyarakat Film Indonesia. Segala macam informasi mengenai MFI dapat diakses melalui situs ini seperti; tentang MFI, Pernyataan Sikap MFI, UU Perfilman Indonesia, serta informasi-informasi aktual seputar gerakan MFI. Semoga situs ini bisa memberi informasi kepada publik untuk mengetahui lebih jauh serta terlibat aktif dalam gerakan perubahan perfilman Indonesia.
April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30