ditulis oleh: Veronica Kusuma, Pokja Kampanye Publik
(dengan bantuan Nia Dinata, Cinzia, dan Ucu Agustin)

riri_panarukan.jpg

Bazaar yang biasanya diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus ini terkesan memang tidak seramai biasanya. Meski masih penuh dengan booth-booth yang menjual beraneka macam barang, tetapi jumlah pengunjung bisa dikatakan lebih sedikit. Hal ini tentu berdampak langsung pada jumlah tamu yang berkunjung ke booth MFI.

MFI sendiri membuka booth di Bazaar Panarukan dengan tujuan mengkampanyekan film Indonesia kepada publik. Di dalam booth MFI, kita menjual pin yang berisi pesan-pesan kampanye film Indonesia dan booklet tentang film Indonesia dengan tanda tangan artis. Selain itu, kita juga menyediakan booklet gratis dan informasi tentang perfilman Indonesia. Booth ini buka mulai dari jam 10.00 pagi ketika bazaar dimulai hingga malam hari, pukul 23.00 ketika acara ditutup.

Pembukaan booklet ini bersamaan dengan cara talkshow film pada pukul 13.00 yang menampilkan Nia Dinata, Riri Riza dan Abduh Aziz. Ketiga konstituen MFI ini berbicara tentang isu-isu film Indonesia, seperti persoalan pajak, produksi, kualitas film dan pentingnya dukungan publik bagi perfilman nasional. Acara ini sejalan dengan fokus isu yang digarap pokja Kampanye Publik, yakni meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat tentang film Indonesia. Meski tidak terlalu ramai, acara ini cukup mendapat respon dari publik.

Untuk booth MFI sendiri, pada pagi hari, Nia Dinata, Farishad Latjuba, Riri Riza, Abduh Aziz, Jamal dan John Badalu bertugas menjadi front officer (campaign officer). Sementara dokumentasi tetap dikerjakan oleh Ucu Agustin dan Ary Rusyadi. Dibandingkan dengan booth-booth lain, booth MFI relatif banyak dikunjungi. Hal ini bisa diukur dari banyaknya pin dan booklet yang terjual, yakni kira-kira 81 orang (Rp 810.000). Tetapi dilihat dari segi kuantitas secara umum, jumlahnya tidak maksimal karena acaranya sendiri yang memang tidak terlalu ramai.

Untuk sesi siang ke sore, petugas yang berjaga adalah Cinzia, Tito Imanda, dan Jamal. Dari observasi di lapangan, pengunjung gerai MFI kebanyakan adalah keluarga (bapak, ibu, dan anak), dengan jumlah anak muda relatif lebih sedikit. Melihat respon publik, kampanye ini sebenarnya sangat bermanfaat dan bagus untuk meningkatkan awareness publik tentang film Indonesia. Banyak pertanyaan yang diajukan sehingga kadang petugas yang berjaga mengalami kelelahan karena kurangnya orang yang stand by.

Untuk acara malam ini, yakni Layar Tancap, Upi Avianto dan Vino G Bastian datang ke tempat acara. Acara malam hari banyak didatangi oleh anak muda, sayangnya jumlahnya juga tidak ramai sekali. Kira-kira 150-an orang.

Persoalan kuantitas orang ini memang lebih ke publikasi dari acara bazaar sendiri yang kurang maksimal. Untuk booth MFI, kita juga harus bekerja keras mengundang orang agar mau berkunjung. Hal ini dikarenakan alat publikasi yang terbatas.

Oleh karena itu, untuk ke depan, MFI harus membuat persiapan yang lebih bagus dalam program kampanye publik ini. Melihat animo publik, isu ini sebenarnya sangat menarik dan bisa dinaikkan isunya menjadi isu publik, tetapi persiapan kampanye dan alat-alat kampanye harus dilakukan lebih baik, termasuk jumlah orang yang berjaga.