Nirwan Ahmad Arsuka

Esensi gerakan MFI sebenarnya sudah terlihat dalam kerangka kerja yang disusun kawan-kawan presidium, yang skemanya dibuat hingga tiga versi, dan telah beredar sejak pertengahan Januari 2007.

Berikut ini adalah sekedar uraian amat sangat ringkas atas esensi gerakan dan kerja MFI, yang diilhami oleh skema kerja tersebut.

1. Film pada dasarnya adalah PIKIRAN, buah akal budi, dalam pengertiannya yang paling luas. Jika filsafat, sastra dan sains adalah pikiran yang dituangkan lewat aksara, maka film adalah pikiran yang diwujudkan lewat citra yang digambar dengan cahaya (photon + graph). Sebuah pikiran bisa menjelaskan dunia; ia juga bisa menentang dunia, menganggu dan mendorong dunia tersebut untuk mengoreksi dari agar tumbuh berkembang lebih sehat.

2. Film ditonton karena di sana ada pikiran yang menghibur. Film dihargai karena di sana ada pikiran yang menawarkan cara melihat dan menghadapi dunia secara lain, sebuah cara baru yang memperkaya perbendaharaan kultural kita. Sebuah pikiran memang bisa sangat bermutu, bisa juga tidak. Dalam bidang sastra, filsafat dan terutama sains, pikiran yang tidak bermutu dihadapi selalu dengan kritik, dengan pikiran lain yang lebih baik. Bukan dengan SENSOR, juga bukan dengan KONTROL. Hal yang sama harus berlaku dalam film. Itu sebabnya MFI menuntut secara tegas perubahan lembaga sensor menjadi lembaga klasifikasi, sekaligus pencabutan UU No. 8/1992 yang membatasi kebebasan penciptaan film.

3. Kritik yang tangguh dan produksi pikiran-pikiran bermutu mensyaratkan adanya forum kritik, lembaga pendidikan dan perbendaharaan pikiran yang memadai. Itu sebabnya MFI mengagendakan perbaikan mutu dan penyebaran institusi pendidikan film, sambil mendorong upaya sistematis perawatan dan pembangunan Sinematek, perbendaharaan film pertama di Asia itu.

4. Ada pikiran yang bisa dicerna oleh semua usia, ada juga yang tidak. Pikiran-pikiran tertentu seringkali mensyaratkan tingkat kematangan pengetahuan tertentu untuk bisa mengolahnya. Itu sebabnya MFI memperjuangkan agar lembaga sensor diganti dengan lembaga klasifikasi film. Sensor yang melarang peredaran atau mengacak-acak sebuah film melakukan paling tidak dua bentuk pelanggaran. Pertama, pelanggaran atas kebebasan pikiran para pembuat film. Kedua, pelanggaran atas hak penonton untuk mendapatkan, mencerna dan mengritik sebuah pikiran secara bebas dan utuh.

5. Salah satu hal yang diurus oleh lembaga klasifikasi adalah film kategori “dewasa”, kategori yang selalu dipersoalkan oleh para pendukung lembaga sensor. Kategorisasi “dewasa” ini adalah hal yang agak bermasalah: penonton film-film ini bisa jadi memang sudah dewasa dari sudut reproduksi, tapi belum tentu dewasa dari segi pikiran. Bahkan bisa dikatakan bahwa karakter film-film “dewasa” adalah tipis/tidak adanya pemikiran di dalamnya. Semakin banyak label “X”-nya, semakin pupus pemikiran di sana.

6. Namun, sebagaimana yang dipaparkan Omar Sharif dalam Monsieur Ibrahim yang mengutip penyair sufi Jalaluddin Rumi, manusia sebelumnya adalah mineral, yang kemudian naik jadi tetumbuhan, lalu berkembang jadi hewan. Para penonton film-film dengan label X s/d XXX adalah mereka yang surut jadi debu dan batu yang tak ingin berpikir, jadi flora dan fauna yang digerakkan semata-mata oleh gelegak reproduksi. Mereka adalah penonton yang, karena satu dan lain hal, ingin untuk sementara melupakan dirinya sebagai manusia dan bergerak mudik ke tahapan pra-manusia. Suatu saat, mereka mungkin bisa saja balik lagi ke tahapan manusia.

7. Karena tipisnya, bahkan tiadanya, pikiran di dalam film-film X s/d XXX, maka film-film ini layak dipajak lebih besar untuk mensubsidi pengembangan film-film yang lebih tebal pikiran, yakni film-film yang menegaskan kemanusiaan manusia; film-film yang ikut membuat penonton bisa menyelesaikan sebagian urusannya yang ribet dengan dunia dan menyadari potensinya untuk melangkah naik mengatasi kemanusiaannya yang sempit. Kebijakan perfilman seperti ini, kita tahu, diterapkan antara lain di Perancis, negeri dengan tradisi pemikiran yang memang tebal itu.

8. Kita memang tak bisa melarang orang menggunakan hak asasinya untuk memproduksi dan menonton film-film yang tipis pikiran. Tapi kita bisa ikut mengupayakan pembentukan sistem yang memungkinkan tumbuh suburnya film-film yang lebih tebal pikiran. Jika pikiran yang bebas, kokoh, kritis dan kreatif kian berkembang luas, maka segenap bidang kehidupan masyarakat akan kian membaik. Kehidupan film yang semarak dan bermutu, selain mengangkat kekuatan kultural sebuah masyarakat, juga ikut memperkokoh kehidupan sosial-ekonomi masyarakat tersebut. Industri kreatif, di mana film termasuk di dalamnya, adalah industri yang sumbangannya semakin menonjol dalam pendapatan negara-negara maju. Potensi industri kreatif ini bahkan melebihi industri manufaktur dan keuangan.

9. Jika esensi gerakan MFI ingin diringkas dalam lima kata, maka itu adalah: “penegakan martabat dan kebebasan pikiran.”

Wilayah gerakan MFI tentu saja dalam dunia film dan segala hal yang berkait dengannya, di berbagai wilayah Indonesia. Metode gerakan MFI adalah: menegakkan kemandirian/kekuatan masyarakat film dan meletakkan pemerintah bukan sebagai penguasa yang serba mengontrol dan melarang, tapi sebagai fasilitator yang melayani dan mendukung. Ringkasnya, MFI adalah gerakan masyarakat madani yang membawa agenda kultural yang menolak tertinggal oleh perkembangan dunia mutakhir.