Prima Rusdi

Kamis, 21 Juni 2007, Presidium gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI), telah menerima kepastian mengenai dibatalkannya kemenangan EKSKUL dan Nayato Fionuala yang terpilih sebagai film terbaik dan sutradara terbaik di ajang FFI 2006 lalu. Adapun Surat Keputusan (SK) bernomor 06/KEP/BP2N/2007, tentang Pembatalan Piala Citra Utama untuk Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006 itu ditanda-tangani oleh ketua BP2N, Deddy Mizwar.

Beberapa pertimbangan yang mendasari pembatalan kemenangan EKSKUL dan Nayato antara lain karena adanya sejumlah polemik dipicu oleh tuduhan pelanggaran Hak Cipta atas penggunaan musik di dalam film tersebut, dan setelah mengkaji ulang dan komprehensif soal pelanggaran hak cipta, BP2N menganggap perlu mengambil tindakan terhadap EKSKUL dan Nayato. BP2N juga menetapkan untuk MENIADAKAN pemenang Piala Citra Utama untuk kategori Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik FFI 2006. SK ini ditetapkan pada tanggal 15 Juni 2007.

Kontroversi soal EKSKUL telah berlangsung sejak awal berakhirnya ajang FFI tahun lalu. Protes terhadap pelanggaran yang telah dilakukan oleh film ini, menjadi salah satu hal pokok dari tuntutan yang diajukan oleh gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dicetuskan pada tanggal 3 Januari 2007 lalu. Gerakan ini terdiri dari pekerja film aktif juga beragam unsur masyarakat yang punya kepedulian terhadap perfilman nasional. MFI bertujuan untuk mendorong terciptanya sejumlah perbaikan struktural dalam perfilman Indonesia, diantaranya menyangkut masalah sistim kelembagaan film Indonesia, dan UU film no. 8 tahun 92 yang sudah tidak kondusif dengan keadaan saat ini.

Meski dalam Pernyataan Bersama MFI juga disebutkan adanya permintaan gerakan ini agar pembatalan kemenangan EKSKUL disertai juga dengan pertanggung-jawaban terbuka dari penyelenggara FFI serta ditiadakannya FFI untuk sementara, belum ada kejelasan dari BP2N mengenai hal tersebut.

MFI sendiri sejak awal telah sepakat untuk meneruskan gerakan ini dengan terus bekerja secara sistimatis, dan bahwa pembatalan soal EKSKUL ini bukanlah pertanda akan berakhirnya gerakan ini.

Kamis, 21 Juni 2007, Presidium gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI), telah menerima kepastian mengenai dibatalkannya kemenangan EKSKUL dan Nayato Fionuala yang terpilih sebagai film terbaik dan sutradara terbaik di ajang FFI 2006 lalu. Adapun Surat Keputusan (SK) bernomor 06/KEP/BP2N/2007, tentang Pembatalan Piala Citra Utama untuk Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006 itu ditanda-tangani oleh ketua BP2N, Deddy Mizwar.

Beberapa pertimbangan yang mendasari pembatalan kemenangan EKSKUL dan Nayato antara lain karena adanya sejumlah polemik dipicu oleh tuduhan pelanggaran Hak Cipta atas penggunaan musik di dalam film tersebut, dan setelah mengkaji ulang dan komprehensif soal pelanggaran hak cipta, BP2N menganggap perlu mengambil tindakan terhadap EKSKUL dan Nayato. BP2N juga menetapkan untuk MENIADAKAN pemenang Piala Citra Utama untuk kategori Film Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik FFI 2006. SK ini ditetapkan pada tanggal 15 Juni 2007.

Kontroversi soal EKSKUL telah berlangsung sejak awal berakhirnya ajang FFI tahun lalu. Protes terhadap pelanggaran yang telah dilakukan oleh film ini, menjadi salah satu hal pokok dari tuntutan yang diajukan oleh gerakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang dicetuskan pada tanggal 3 Januari 2007 lalu. Gerakan ini terdiri dari pekerja film aktif juga beragam unsur masyarakat yang punya kepedulian terhadap perfilman nasional. MFI bertujuan untuk mendorong terciptanya sejumlah perbaikan struktural dalam perfilman Indonesia, diantaranya menyangkut masalah sistim kelembagaan film Indonesia, dan UU film no. 8 tahun 92 yang sudah tidak kondusif dengan keadaan saat ini.

Meski dalam Pernyataan Bersama MFI juga disebutkan adanya permintaan gerakan ini agar pembatalan kemenangan EKSKUL disertai juga dengan pertanggung-jawaban terbuka dari penyelenggara FFI serta ditiadakannya FFI untuk sementara, belum ada kejelasan dari BP2N mengenai hal tersebut.

MFI sendiri sejak awal telah sepakat untuk meneruskan gerakan ini dengan terus bekerja secara sistimatis, dan bahwa pembatalan soal EKSKUL ini bukanlah pertanda akan berakhirnya gerakan ini.