pleno3.jpg

Teks: Prima Rusdi. Foto: Gde Pesut

Setelah sempat tertunda, akhirnya pleno MFI kedua berhasil dilangsungkan pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Pleno yang dihadiri sekitar 70 petisioner itu bertempat di kawasan Kemang, Gedung Oktroi, dari pukul 16.00-19.00 WIB. Meski jumlah peserta kurang lebih berkisar 23% dari total petisioner, namun kehadiran dari segi profesi cukup terwakili.

Pleno ini dimulai terlambat sekitar satu jam dari jadwal, antara lain disebabkan sulitnya mencapai lokasi pertemuan yang kala itu terkepung bazaar Kemang. Para relawan yang membantu kelancaran acara, Susy dan Widya (keduanya tidak terdaftar di dalam daftar ‘resmi’ 67 relawan), tiba lebih awal di lokasi, menyambut hadirin dengan membagikan laporan tertulis yang terjilid dalam bentuk bundel.

Jajaran presidium MFI lengkap hadir: Abduh Azis, Alex Sihar, Aria Agni, Ody C. Harahap, Farishad Latjuba, Mira Lesmana, Nia Dinata, Riri Riza, Shanty Harmayn, Sari Mochtan, Sastha Sunu, dan Tino Saroengallo.

Abduh dan Riri membuka pertemuan dengan mempresentasikan rekapitulasi kegiatan MFI terhitung sejak bulan Desember 2006 lalu hingga awal Agustus 2007. Termasuk di sini adalah beberapa kejadian positif yang relevan dengan tuntutan MFI, seperti dibatalkannya kemenangan EKSKUL selaku Film Terbaik FFI’06, juga sejumlah tantangan dengan adanya perombakan keanggotaan BP2N, diskusi masalah tuntutan yang berkaitan dengan UU Film Tahun 82, serta sikap terhadap rencana FFI 2007 di Riau, dll.

Selanjutnya, laporan ringkas oleh para presidium yang merangkap sebagai ketua Kelompok Kerja Kajian (Alex Sihar), Fund-Raising (Mira Lesmana), Kampanye Publik (Nia Dinata), Sekertariat (Sari Mochtan), Tino Saroengallo (Komunikasi dan Dokumentasi). Pembagian kerja dan aktifitas seluruh Pokja sedianya dilakukan oleh 67 relawan yang mendaftarkan diri di Nebraska bulan Februari silam. Namun seperti yang dilaporkan setiap penanggung jawab Pokja, tantangan yang paling umum adalah kesulitan para relawan membagi waktu antara mengerjakan pekerjaan sehari-hari dengan sejumlah tugas yang berkaitan dengan kepentingan Pokja masing-masing. Ringkasnya, dari jumlah relawan yang terdaftar, kurang dari 50% yang bisa aktif. Hal ini dilanjutkan dengan diskusi mengenai struktur organisasi.

Menjelang akhir diskusi, forum membahas mengenai perlunya penjajakan untuk mewujudkan Asosiasi Profesi. Ditargetkan pada bulan Oktober, akan ada pertemuan lebih lanjut untuk membahas cikal bakal Asosiasi Profesi yang di antaranya terdiri dari Asosiasi Sutradara, Asosiasi Produser, Asosiasi Penulis, Asosiasi Kru Produksi, dll.

Pertimbangan pembentukan asosiasi ini dikembalikan ke para pelaku sendiri, apakah dipandang sudah perlu profesi mereka membentuk asosiasi. Dari jajaran akademisi film misalnya, Tito Imanda yang aktif mewakili MFI di acara-acara diskusi maupun sosialisasi gerakan ini ke publik menganggap para ilmuwan belum perlu membentuk asosiasi.

Beberapa penulis skenario film telah membentuk mailing list PENAFIN sejak bulan Mei silam, milis ini awalnya ditujukan sebagai wadah diskusi dan penyatuan data-based para penulis skenario film dan kini dimaksudkan sebagai awal terbentuknya asosiasi penulis skenario film Indonesia, info bisa ditanyakan melalui moderatorpenafin@yahoo.com

Kegiatan MFI setelah pleno antara lain, mengisi forum diskusi Studi Pembangunan ITB, tanggal 28 Agustus lalu. Dalam kesempatan itu MFI diwakili oleh Nirwan Arsuka dan Joko Anwar. Hadir di forum tersebut antara lain Slamet Rahardjo, Aryani Darmawan (pembuat film pendek), dan Drs. Bakrie MM.