Pada hari Rabu, 16 Januari 2008, saya menonton film Perempuan Punya Cerita tanpa sensor, di Blitzmegaplex. Itu adalah pertunjukan dengan penonton terbatas (Undangan khusus, atau limited viewing), di mana penonton tidak membayar karcis. Hal ini sudah berjalan dalam berbagai Festival Film di Indonesia.

Film ini sangat bagus dan membuat saya berpikir bahwa perempuan memang harus menceritakan kehidupannya, sehingga kita dapat memikirkan kehidupan yang lebih adil bagi perempuan, di masa yang akan datang.

Karena saya mendengar bahwa sensor untuk film ini adalah salah satunya yang membuat dilakukannya Uji Materi terhadap Undang-Undang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, di Mahkamah Konstitusi, khususnya tentang definisi Sensor, maka pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya kembali menonton film Perempuan Punya Cerita di Blitzmegaplex, untuk mengetahui bagaimana sensor yang dilakukan LSF terhadap film ini.

Ternyata sensor yang dilakukan melebihi perkiraan saya, terutama untuk Cerita Jogja. Cerita tentang kehidupan seksual anak-anak SMA di Jogja, yang menurut saya adalah cerita yang paling menarik dan merupakan kekuatan film ini. Sensor yang banyak sekali, tidak hanya adegan-adegan yang dianggap dapat merangsang nafsu birahi, tetapi juga dialog-dialog yang mungkin dianggap bertentangan dengan kesusilaan. Padahal adegan-adegan dan dialog-dialog itu adalah bagian-bagian penting dari alur cerita. Dan anak-anak SMA khususnya, bisa belajar banyak sekali dari film itu. Ketika bagian-bagian penting itu dihilangkan, film yang sebenarnya sangat bagus ini menjadi tidak jelas, dan hilang kekuatannya.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan menonton film itu tanpa sensor pada 16 Januari 2008, sehingga saya menjadi saksi bahwa film itu sebenarnya mengajarkan banyak sekali tentang pentingnya Pengetahuan tentang Seksualitas, khususnya tentang Reproduksi, bagi anak-anak SMA dan SMP.

Dalam penafsiran saya, Cerita Jogja menceritakan bagaimana anak-anak perempuan SMA, dan SMP (ada satu anak perempuan yang diajak melakukan hubungan seksual oleh anak laki-laki SMA), sangat rentan menjadi korban, dari hubungan seksual yang dilakukan dengan pacarnya, atau temannya, seusia mereka, atau lebih tua (ada satu anak perempuan yang berhubungan seksual dengan laki-laki dewasa).

Dalam film tersebut, terlihat bahwa anak-anak perempuan SMA ini penuh rasa ingin tahu, dan menikmati hubungan seksual yang mereka lakukan dengan pacarnya atau temannya. Menarik ketika dalam suatu dialog, mereka bahkan bingung bersikap ketika anak perempuan digilir untuk melakukan hubungan seksual, oleh beberapa anak laki-laki, yang di antaranya adalah pacarnya sendiri. Ada yang marah dan mengatakan itu sangat tidak romantis, tetapi ada yang bertanya, bagaimana rasanya digilir? dengan penuh rasa ingin tahu, dan seperti berpikir mungkin ada kenikmatannya juga.

Anak perempuan sangat rentan menjadi korban, ketika hamil, dan pacarnya atau temannya, tidak mau bertanggungjawab. Digambarkan bahwa anak laki-laki umumnya melakukan hubungan seksual untuk memenuhi rasa ingin tahu, memenuhi fantasi seksualnya, untuk menikmati dan bersenang-senang, serta untuk menunjukkan kemampuannya di antara teman-temannya. Tetapi ketika anak perempuan, yang dengannya ia telah melakukan hubungan seksual, ternyata hamil, mereka tidak mau bertanggungjawab. Dan menyuruh menggugurkannya saja.

Ketika anak perempuan hamil, mereka sungguh-sungguh menjadi korban, sementara anak laki-laki dengan seenaknya berusaha lari dari tanggungjawab. Anak perempuan merasa sangat ketakutan dan sangat sedih. Takut dimarahi orangtuanya, takut memikirkan sekolah dan masa depannya, sedih karena anak laki-laki yang membuat dia hamil tidak mau bertanggungjawab, dan berbagai tekanan psikis lainnya. Mereka mencoba menggugurkan kandungan dengan minum Juice Nanas muda yang dicampur dengan Sprite, selama beberapa hari. Yang tentu saja sangat berbahaya bagi organ reproduksinya. Mereka juga mencoba melakukan aborsi ilegal dengan cara-cara yang sangat menyakitkan, dan tentu sangat membahayakan organ reproduksi dan jiwanya.

Dalam cerita digambarkan anak perempuan itu akhirnya dinikahi oleh salah seorang anak laki-laki yang menggilirnya ketika melakukan hubungan seksual. Dan anak laki-laki itu terpaksa menikahi dia, padahal anak laki-laki itu sebenarnya tidak ingin menikahinya. Bagaimana bisa mengharapkan kebahagiaan, bila kita menikah dengan orang yang tidak mencintai kita?.

Anak perempuan menjadi penanggung terberat dari suatu hubungan seksual yang mengakibatkan kehamilan. Pada anak laki-laki, resikonya adalah ketika akhirnya harus menikah di usia muda (SMA), karena harus bertanggungjawab atas kehamilan anak perempuan, yang dengannya ia telah melakukan hubungan seksual.

Dalam cerita ada juga anak perempuan yang akhirnya mau melakukan hubungan seksual, karena dia merasa laki-laki (dewasa) itu adalah orang yang tepat, yang dia cintai, dan dia kira laki-laki itu juga mencintainya. Tetapi ternyata, ketika waktu untuk pulang ke kota asalnya tiba, laki-laki itu – tanpa beban, berpamitan. Sementara anak perempuan itu sangat sedih ketika menyadari laki-laki itu melakukan hubungan seksual dengan dirinya, mungkin hanya untuk bersenang-senang. Dia ketakutan apakah dia akan hamil atau tidak?. Kasihan sekali.

Dari film tersebut, anak-anak perempuan bisa belajar untuk lebih berhati-hati, dan dapat mengambil sikap, tentang hubungan seksual. Menurut saya yang paling tepat adalah  memberikan Pengetahuan tentang Seksualitas, khususnya tentang Reproduksi, bagi anak-anak SMA dan SMP. Mereka harus mengenal organ-organ Reproduksinya, dan tahu segala resiko apabila mereka melakukan hubungan seksual.

Penting juga untuk membentuk mental anak-anak perempuan menjadi lebih kuat dan percaya diri, sehingga mereka tidak takut untuk menolak ketika pacarnya mengajak melakukan hubungan seksual. Tidak takut ditinggalkan atau lainnya. Dan yakin bahwa kalau pacarnya benar-benar menyayanginya, pacarnya itu tidak akan pergi hanya karena dia tidak mau berhubungan seksual.

Bagaimanapun saya sedih mengetahui anak-anak SMA (dan SMP?) telah melakukan hubungan seksual. Hidup mereka masih panjang, alangkah baiknya kalau mereka bisa menahan diri, dan mengalihkan energi dan pikirannya pada hal-hal yang membuat kualitas diri mereka semakin baik. Misalnya: di luar jam sekolah, mereka bisa aktif berorganisasi, menekuni hobby, atau aktif di lingkungannya. Banyak sekali yang bisa dilakukan, selain berhubungan seksual, yang selayaknya dilakukan orang dewasa.

Saya pernah membaca pemikiran dalam suatu buku, yang ditulis oleh Konsultan Perkawinan, yang menurut saya tepat. Pasangan yang berpacaran, jangan terburu-buru tergoda untuk terlibat intim secara seksual. Karena yang akan membuat suatu hubungan kuat, bukan keintiman secara seksual, tetapi ikatan emosional. Pacaran adalah waktu untuk membangun kenangan bersama, waktu untuk saling mengenal sedetil mungkin. Berusaha untuk mengetahui apa yang paling disukai, apa yang paling ditakuti, apa yang membuat sedih, apa yang paling berarti, apa cita-cita dan mimpi masa depan masing-masing, dan lain-lain. Dan bersabar untuk tidak melakukan hubungan seksual, sampai saatnya tiba. Sehingga indah dan membahagiakan.

Una, R. Husna Mulya