You are currently browsing the daily archive for February 10, 2008.

 mk3kecil.jpg

Rekan-rekan MFI,

Sambil memasuki ‘minggu tenang’, silakan simak sejumlah kutipan yang kami ambil dari keterangan para ahli sepanjang persidangan tanggal 24 Januari dan 06 Pebruari 2008. Arena sidang menyoal praktik sensor ini sungguh tak akan sama tanpa kontribusi beragam pihak yang termasuk dalam barisan ahli, saksi, atau pihak terkait baik langsung maupun tak langsung. Pencantuman kutipan-kutipan ini merupakan ekspresi rasa terimakasih dan penghargaan bagi mereka.

Sampai jumpa di persidangan final. Salam.

Kutipan-Kutipan Dari Persidangan

“…ada kesan bahwa bagi mereka yang menginginkan
kemerdekaan ekspresi seolah-olah menginginkan
kebebasan yang tanpa batas. Ada ketakutan pada
kemerdekaan padahal tidak pernah terpikir bagi kami
untuk memperjuangkan kemerdekaan tanpa batas.
Persoalannya adalah bagaimana batas ditentukan? Siapa
yang menentukan? Dan apakah ada keadilan dalam hal
itu?” (Goenawan Mohammad, 24 Januari 2008)

“Baru-baru ini seorang Menteri Penerangan Malaysia
mengatakan pers Indonesia terlalu excited kepada
keberanekaan yang diberi. Bagi saya itu suatu
penghinaan. Kemerdekaan pers Indonesia, kemerdekaan
hak asasi kita tidak diberi; kita perebutkan! Munir
meninggal karena itu, jangan kita lupa. Berapa banyak
mahasiswa yang ditangkap dan mati? Diculik? Apakah ini
kita lupakan?” (Goenawan Mohammad, 24 Januari 2008) Read the rest of this entry »

Jakarta, 6 Pebruari 2008

Usai pemutaran salah satu film yang menjadi barang bukti persidangan, “Student Movement in Indonesia” arahan sutradara Saroengallo, salah satu ahli pihak termohon, Anwar Fuady tak melewatkan kesempatan untuk memberikan tanggapan, seperti yang beliau lakukan sebelumnya, dari podium sebelah kanan ruang. Dengan suara lantang, Anwar Fuady berkata,”… mengenai judulnya The Army Forced them to be Violent itu diganti menjadi Student Movement in Indonesia karena dari judulnya saja terkesan bahwa kita sangat bahwa pembikin film tersebut sangat anti militer dan
mendiskreditkan pihak militer dan aparat karena filmtadi dibuat dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Inggris itu pasti akan diedarkan di luar negeri itu akan merusak citra militer dan aparat di Indonesia. Bayangkan bagaimana nanti perasaan para militer?”

Bila sebagian besar dari kita kesulitan membayangkan ‘perasaan militer’ bisa jadi hal itu berkaitan dengan keterbatasan kemampuan organisasi kita yang belum secanggih Pak Anwar Fuady. Jangan lupa, saat penampilan perdana beliau di ruang sidang Mahkamah Konstitusi, beliau membentak Riri Riza yang mencoba untuk menginterupsi agar belajar berorganisasi.

Kali ini Tino Saroengallo berkesempatan untuk menjelaskan kembali kepada para termohon, “Apapun isi film Student Movement In Indonesia merupakan informasi sejarah menurut versi Pemohon. Oleh sebab itu untuk menjaga kemurnian film tersebut sehingga terbebas dari tudingan kampungan seperti istilah ditunggangi oleh kepentingan asing pembuatan film itu “Pemohon biayai sendiri.”

‘Puncak’ kejutan urusan praktik sensor terhadap “Student Movement” ini rupanya belum berakhir, karena tak lama setelah Tino bicara, karena pihak terkait dari pemohon, Drs. SOETJIPTO, S.H., M.H. (LSF) memberitakan bahwa, “..kalau kita berbicara mengenai originalitas itu harus betul-betul murni dari pemikiran dia. Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa film dokumenter tidak memenuhi syarat sebagai suatu film yang bisa digolongkan suatu karya cipta yang originalitas menurut Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002” Read the rest of this entry »

Ini adalah situs resmi sementara Masyarakat Film Indonesia. Segala macam informasi mengenai MFI dapat diakses melalui situs ini seperti; tentang MFI, Pernyataan Sikap MFI, UU Perfilman Indonesia, serta informasi-informasi aktual seputar gerakan MFI. Semoga situs ini bisa memberi informasi kepada publik untuk mengetahui lebih jauh serta terlibat aktif dalam gerakan perubahan perfilman Indonesia.
February 2008
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829