I. Latar Belakang MFI (pertanyaan 1s/d 3)

1. Siapa Masyarakat Film Indonesia (MFI)?
-Sekumpulan individu yang punya keperdulian soal perlunya kondisi film Indonesia.

2. Arah MFI?
-Bekerja secara terstruktur untuk mencapai perubahan yang kondusif.  MFI mengkaji  masalah yang ada dan memberikan masukan kepada pemerintah.  

3. Apakah didasari oleh kekecewaan terhadap menangnya film ‘Ekskul’ atau ada hal lain yang sifatnya lebih mendesak?
-Para individu yang tergabung di MFI sudah sejak awal tahun 2000-an menyadari perlunya perbaikan dalam sejumlah kebijakan yang menyangkut industri film. (Jadi sudah ada keprihatinan sejak sebelum FFI diadakan lagi tahun 2004).

II. EKSKUL-FFI-MFI (pertanyaan 4 s/d 11)

4.a. Bagaimana perkembangan terakhir soal tuntutan terhadap EKSKUL?
-Yang berkepentingan untuk tahu soal pelanggaran penggunaan musik EKSKUL telah kami ajak berdiskusi, dan semua telah ikut melihat bahan investigasi. Sekarang masalah Ekskul sudah ditangani pihak yang lebih berwenang. 

4. b. Seandainya film ‘Ekskul’ hanya masuk nominasi dan tidak menang, apakah tetap akan dilakukan protes dan Masyarakat Film Indonesia tetap didirikan?
-Ya, karena cepat atau lambat harus ada perubahan.

5. Yang dimaksud MFI dengan perubahan mendasar?
-Soal kebijakan: yang ada saat ini tidak dibuat dengan melibatkan pekerja film aktif, dan  karenanya tidak berfungsi secara efektif,
-Soal sejumlah badan/lembaga film: tidak bisa hanya ganti pengurus, karena sistim yang selama ini dterapkan di sejumlah badan/lembaga memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan.
-Pemerintah bukan lagi berperan sebagai pihak yang mengkontrol, tapi sebagai fasilitator (Karena supaya industri film bisa berkembang dan hidup terus, harus dijalankan secara profesional oleh pekerja film aktif).

6. Ada anggapan bahwa Masyarakat Film Indonesia hanya sekedar melontarkan kritik dan protes, tetapi tidak dibarengi dengan solusi yang konkrit
-Tidak benar. Kami bekerja secara terstruktur dan memberi sejumlah solusi terhadap masalah yang ada.

7. Pengembalian Piala Citra: demokratis dan konstruktif atau radikal dan destruktif?
-Konstruktif. Karena kami justru merasa belum waktunya memenangkan Piala Citra kalau jelas-jelas masih ada sejumlah hal yang lebih mendasar yang harus diperbaiki.

8. Sudah sampai sejauh mana proses penyelesaian secara hukum untuk kasus penjiplakan dalam film ‘Ekskul’?
-Sudah ditangani oleh pihak yang lebih berwenang.

9. Berbicara penjiplakan, bukankah itu sudah menjadi semacam ‘kultur’ dalam dunia perfilman?
-Sama sekali tidak betul, dan tidak bisa ditolerir, karena tindakan penjiplakan, atau lebih parah lagi, penggunaan materi asli dari sebuah karya yang ditempelkan ke karya lain tanpa izin adalah pelanggaran yang serius.

10. Apakah MFI perlu menggelar festival ‘tandingan’ untuk FFI ?
-Tidak. Dan seharusnya tidak akan pernah ada festival lain yang bisa menandingi FFI.
-FFI punya fakta sejarah yang panjang dan harusnya berfungsi sebagai ajang penghargaan tertinggi bagi pekerja film di Indonesia.
-Sebagai catatan, sebagian besar dari kami mulai membuat film saat FFI belum diselenggarakan lagi, dan bahkan belum ada festival film yang bersifat kompetetif, jadi tujuan utama kami membuat film bukan untuk memenangkan festival tapi untuk bekerja secara profesional  sebagai pembuat film.
-Kata ‘profesional’ jadi penting, karena kalau sampai ada penghargaan yang layak kami terima, haruslah didasari pertimbangan yang menghargai aspek profesionalisme.  

11. Idealnya bagaimana penyelenggaraan FFI?
-FFI harus bisa jadi tolak ukur pencapaian pekerja film yang kredibel, dan karena itu harus menjunjung tinggi profesionalisme dan diselenggarakan dengan transparan.

III. Sifat/bentuk/objektif gerakan MFI, Isu “Muda” vs. “Tua”, Upaya sebelum membentuk MFI,  Sensor/Klasifikasi, kaitan dengan praktek demokrasi, progres gerakan (pertanyaan 12 s/d 23) 

12. Masyarakat Film Indonesia: Gerakan politik atau gerakan kebudayaan?
-Intinya gerakan untuk mencapai perubahan yang positif.
-Kami menyuarakan hak dan kewajiban sebagai warga negara dengan memberikan sejumlah masukan kepada pemerintah, sekarang sudah bukan masanya hanya menunggu dan berharap. Pemerintah juga sudah tidak mungkin selalu kerja sendirian.
-Gerakan semacam ini sebetulnya wajar saja, ini bentuk praktek demokrasi.
-Objektif kami adalah terus bikin film namun bisa menggunakan hak kami selaku warga negara dan pekerja profesional secara maksimal.

13. Bukankah akan lebih baik apabila dari kubu-kubu yang bertingkai duduk dalam satu forum, membahas, dan mencari titik temu serta solusi secara bersama-sama?
-Sejak awal kami mendeteksi perlunya ada perubahan kami selalu mencoba berdiskusi dengan pihak-pihak yang berwenang, sejumlah contoh:
a.Tahun 2004, bulan Desember, saat JiFFest berlangsung, pekerja film berdiskusi dengan Lee Chang Dong (sutradara/mantan Menteri Kebudayaan Korea), di forum itu juga hadir Bapak Johny Safruddin dari BP2N. Para pekerja film yang sebagian kini tergabung di MFI sudah mengutarakan keprihatinan mereka di dalam forum itu,
b. Januari 2005, saat pekerja film membentuk Komite Sinema Indonesia, kami juga mengundang berbagai pihak, termasuk BP2N dan sejumlah wakil dari organisasi film untuk berdialog.

14. Tapi mengapa ada tudingan bahwa pekerja film angkatan muda tidak pernah mau diajak bergabung oleh yang lebih senior?
-Ini bukan gerakan junior melawan senior.
-Secara personal kami amat menghargai siapapun yang terlibat di dalam industri ini, tapi ada persoalan perbedaan visi, kelembagaan film yang dijalankan dengan sistim yang sudah tidak relevan tidak bisa diperbaiki hanya dengan keterlibatan kami di dalamnya.
-Kami pernah mencoba bergabung ke dalam tatanan yang sudah ada. Misalnya, saat FFI diselenggarakan lagi tahun 2004, sejumlah pekerja film aktif yang kini tergabung di MFI juga sudah mencoba untuk terlibat. Namun sulit melakukan perbaikan karena memang ada perbedaan visi. Dari situ kami belajar, perubahan tidak bisa dilakukan dengan basa-basi (misalnya: sekedar mengganti keanggotaan lembaga), apalagi kalau masalah yang ada sudah mengakar karena sistimnya buruk.

15. Mengenai Lembaga Sensor Film, apakah perfilman kita memang benar-benar tidak memerlukan lagi sensor? Lalu, siapa yang mengkontrol/melindungi penonton?
-Kami ingin melindungi hak publik untuk memilih, karena ini bagian dari praktek demokrasi/hak azasi,
-Kalau kami menyetuji sensor itu berarti kami memblokade (menghalangi) hak bicara penonton,
-Bila kita sudah bisa memilih Presiden secara langsung, berarti masyarakat sudah siap untuk melindungi diri sendiri,
-Sensor yang berlaku sekarang juga tidak efektif, karena hanya diberlakukan sepihak. Peraturan semacam ini membuat kondisi yang tidak sehat, juga tidak menjamin terlindungnya hak penonton. ( Misalnya, berapa sering kita melihat anak-anak kecil di dalam bioskop dan dibiarkan menonton film yang bukan untuknya?Karena memang tidak ada sangsi apapun bagi pelanggaran seperti ini). 
-Kalau masyarakat dibiarkan memilih dengan bantuan lembaga klasifikasi, mereka akan punya tanggung-jawab lebih besar untuk memilih film yang sesuai dengan kebutuhannya. (Dalam penerapannya harus ada kerja sama dengan para pengusaha bioskop dan masyarakat. Pengusaha bioskop  juga akan lebih disiplin dan punya tanggung jawab lebih besar bila ada pelanggaran. Pembuat film juga akan punya kewajiban dan tanggung jawab lebih besar untuk membuat film yang lebih berkualitas dan jelas ditujukan kepada siapa).

16. Lembaga Klasifikasi Film nantinya memiliki job description yang seperti apa?
-Kami sedang terus mengkaji untuk merumuskannya dalam bentuk usulan.

17. Lembaga Film versi MFI, seperti apa?
-Yang kami perlukan adalah Asosiasi Profesional bagi pekerja film yang bisa berfungsi dengan efektif  dan mendukung dirinya sendiri. Pemerintah dalam hal ini adalah fasilitator, (Contoh: Ikatan Dokter Indonesia). Jadi  kami akan bisa pro-aktif dalam mengembangkan industri film Indonesia. Misalnya, ada pelanggaran dari pihak pengusaha bioskop, kami bisa bersuara supaya ada sangsi.
 
18. Apa bedanya KISI dengan MFI?
-MFI  adalah bentuk pembelajaran kami dari upaya-upaya kita yang sebelumnya, tujuannya sama: melakukan perubahan.

19. Bagaimana sikap MFI terhadap KFT?
-Kami menghargai dukungan KFT karena berarti KFT mau melakukan perubahan. Tapi kami masih mau menunggu langkah-langkah selanjutnya dari KFT.

20. Bila tuntutan MFI tidak dipenuhi?
-Kami akan terus berusaha, dan tidak akan berhenti membuat film.

21. Ada respons yang positif dari pemerintah?
-Diterimanya Piala Citra yang kami kembalikan tanggal 9 Januari lalu merupakan awal yang baik dari pemerintah. Dan kami masih yakin, pemerintah juga menyambut positif setiap kali ada upaya dari warga negaranya untuk memperbaiki keadaan. 

22. Setelah berjalan sejauh ini, apakah MFI menyesali langkah yang diambil? Apakah ada perubahan tuntutan/kompromi?
-Karena tuntutan ini didasari dengan pertimbangan yang matang, juga pemahaman soal pentingnya perubahan dan pengetahuan soal akar masalah, kami tahu betul apa yang kami tuntut, jadi siap dengan segala resikonya.
-Tidak ada kompromi yang mengakibatkan perubahan tuntutan. Tuntutan tetap sama, karena masalahnya masih sama.

23. Apakah terbuka forum untuk berdialog?
-Sangat. Kami terbuka untuk berdialog dengan siapapun. Sampai saat ini kami terus mengupayakan terjadinya dialog.